ika ditanya saatini, junalisme yang idealis maka saya katakan adalah jurnalisme mahasiswa.Yang jauhdari kepentingan apapun. Namun sebelum melangkah pada dunia jurnalistik yang membuat kita gelisah. Perlu dijelaskan macam-macam jurnalisme, jurnalistik investigasi, jurnalisme damai, jurnalisme sastra, jurnalisme profetik, jurnalitik radio, belakangan atau hari ini di Indonesia dikenal dengan istilah JURNALISTIK INFOTAINMENT.
Kehadiran jurnalitik infontainment, terlahir dari beberapa faktor, ekonomi dan politik. Sehingga dalam dunia jurnalistik, muncul istilah infotainment, yang mewarnai kinerja junalistik tanah air. Sebelum melangkah pada persoanalan dunia infotainment, ada baiknya dijelaskan arti dan fungsi jurnalistik. Journalistic berasal dari bahasa latin journal yang berarti megnumpulkan data. Journalist adalah orang yang melakukan pengumpulan data. Sedangakan journalism adalah paham tentang pengumpulan data. Jadi rang yang mengumpulkan data disebut journalis seperti penulis. Namun istilah tersebut, lebih melekat pada waratawan yang melakukan peliputan terhadap berita. Berbicara berita otomatis berbicara tentang media, disini fungsi jurnalistik dijalankan.
Sudah dijelaskan diatas, bahwa media yang ideal adalah media (pers) mahasiswa. Seiring perkembangan dengan berbagai serangan Negara dan pasar (dalamekonomi) keperntingan kelompok (dalampolitik) untuk tercapainya sebuah tujuan. Kondisi ini yang saat ini memperngaruhi perkembangan dunia jurnalistikdan menciderai citra wartawan. Sehingga yang terjadi fungsi media tidak sebagaimana mestinya, salah satu fungsi media adalah control social. Apalagi saat ini mendekati pesta politik, yang salah satu jurus jitunya adalah stasiun TV, AnTV dan TV One, MNC Group dan masih banyak yang lainnya. Belakangan ini, masyarakata Indonesia dibutakan oleh yang namanya informasi hiburan (infotainment) yang terkadang tidak edukatif. Membuat kita enjoy aja. Kondisi ini yang menjadi musuh dalam selimut, betapa besar peran media dalam membentuk karakter masyarakat.
Berbicara siaaran Televisi berisi hiburan tiap hari kita jumpai. Bahkan tidak hanya beberapa jam saja. Melainkan durasinya lebih lama ketimbang tayangan dari idealnya suatu media. Sehingga yang menjadi korban, pada umumnya adalah khlayak yang minim pengetahuan. Jadi, tidak salah ketika ada litratur mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa konsumtif.
Sebelum mengupas kenapa Infotainment menjadi sorotan. Maka pelu diketahui sejarahnya. Konsep infotainment awalnyaberasal dari John Hopkins University (JHU), Baltimore, Amerika Srikat. Universitas yang terkenal dengan berbagai riset-riset kedokterannya tersebut memiliki jaringan organisasi nirlaba internasional yang bergerak dalam misi kemanusiaan meningkatkan kesejahteraaan ummat manusia melalui berbagai aspek kesehatan. Misi kemanusiaan JHUdi bidang kesehatan didukung oleh Center of Communication Program (CCP) yang bertugas mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan guna mengubah prilaku kesehatan masyarakat. Untuk itu pakar komunikasi (Everet M. Rogers) di CCPmerumuskan berbagai metodepenyampaian pesan-pesan kesehatan yang secara efektif dapat engubah prilaku positif. Salah satu konsep yang dihasilkan adalah infotainment.
Informasi yang hanya disampaikan sebagaimana adanya sedikit tidak membuahkan hasil. Maka dibuatlah pancingan untuk mengambil hati masyrakat. Kemudian disusupkanlah entertainmet (hiburan) yang menarik perhtian masyarakat ditengah-tengah penyampaian information (informasi).dari sini muncul istilah infotainment, yaiutu kemasan acara informative namun dibungkus dan disisipi dengan entertainment untuk menarik perhatian khalayak sehingga informasi sebagai pesan utamamanya dapat diterima.
Setelah infotainment masuk ke Indonesia. Bereda lagi peran dan fungsinya, yaitu bersifat komersil. Kemudian bermunculan, yang sifanya komesrsil televisi menwarkan berbagai program hiburan, seperti X-Factor, Indonesian Idol, Talk Show, Kuis dan sinetron. Sehingga, khalayak tertarik untuk menjadi bintang di televisi, yang kemudian menghadirkan berbagai ajang pencarian bakat. Dari sini kemudian fungsi ideal media kabur. Bagaimana tidak pekerja infotainment, tiap hari mensajikan berita tentag kehidupan selebritis, tidak hanya persoalan hidup perjalanannnya sebagai selebritis, tetapi kehidupan yang sangat privasi pun menjadidi sasaran tembak para pekerja infotainment. Sudah banyak selebrtis yang terkuak kehidupan pribadinya yang tidak semunya lehidupan pribadi slebtritis tertkuak. Baru-baru ini bagaimana wartawan infotainment mengejar-ngejar kehidupan Ayu Ting-Ting, sampai saat ini waratawan infotainment ingin mengetahui wajah anaknya. Yang lebih menyedihkan lagi, apabila wartwan infotainment, malam-malam masuk ke rumah seorang artis, lalu menggosip menyakan tentang hubungannya, walau sebenarnya tidak ada. Terlebih apabila artis yang ingin menebar sensasi mendulang popularitas. Sasaran empuk para pekerja infotainment.
Dari pemaparan diatas. Buku berjudul “ JURNALISTIK INFOTAINMENT: Kancah Baru Jurnalistk dalam Industri Televiusi” yang ditulis oleh Iswandi Syahputra, menguak kehidupan para pekerja infotainment dan production house. Yang mana sebagian isinya tertuang dalam ulasan-ulsan diatas. Buku ini sebagai kritik terhadap kinerja infotainment dan production house yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya mementingkan komersil. Yang kemudia mengakburkan fungsi jurnalistik dalam Industri Televisi yang merupakan media yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.
Kesimpulannya bahwa kinerja jurnalistik di Indonesia boleh dikatakan bermuka dua. Maksudnya dari segi fungsinya. Tergantung production house-nya mau diarahkan kemana sebuah media dengan keinerja jurnalistiknya tersebut. Ketika mengintip isi buku tersebut, sesuai dengan apa yang dikatakan diatas, bahwa media yang tanpa kepentingan adalah media mahasiswa. Disinilah prktek jurnalistik yang sebenarnya. Tidak ada lain selain pembelajaran mengenal dunia jurnalistik.
Rabu, 09 April 2014
Selasa, 30 Juli 2013
Paradigma Klasik: Pembunuh Karakter di Era Globalisasi
Modernisasi adalah kata yang sangat membudaya dan tidak asing ditelinga kita, yang kemudian melahirkan prilaku dan gaya hidup modern pula. Hanya saja, budaya tersebut tidak berlaku bagi masyarakat pedalaman di Indonesia, salah satunya pulau Madura. Dimana sebagian daerahnya Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep, yang jauh tertinggal dari kota-kota lain. Melihat letak georafisnya, tidak seperti daerah masyarakat primtif yang ada dipedalaman Papua dan Sumatra. Hal itu bisa dilihat dari dua sektor yang sampai saat ini masih menjadi patologi dalam kehidupan masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 seiring perkembangan zaman yang bernama modernisasi yang berbungkus globalisasi.
Adapun sektor yang jauh tertinggal dari kota-kota lain, dan mudah kita lihat. Pertama, sektor ekonomi, banyaknya pengemis dengan berbagai motif, masyarakat perantau, dan masih banyak lagi pemuda yang mennjadi pengamen. Hal ini menunjukkan, bahwa ekonomi masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 masih lemah. Berbeda dengan kota-kota lain, salah satunya kabupaten Jember, yang dapat dijadikan perbandingan. Dimana dengan kondisi georafis sangat mendukung, sehingga sebagian besar penduduknya adalah agraris. Dan untuk kalangan pemuda, yang rata-rata minimal lulus SMA/SMU/SMK/MA, setidaknya mereka punya orientasi bekerja pada umumnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Bagaiamna dengan Madura sendiri?, Disana terhamapar laut yang luas dan hasil laut yang melimpah hanya saja orang yang mampu menekuni, masih banyak dilakukan oleh masyarakat pantai. Dan Madura menempati posisi ke-7 hasil buminya, karena hamapran tersebut mengandung material minyak mentah. Kedua, sektor pendidikan, memang tidak dapat dipungkiri mayoritas penduduknya mengenyam pendidikan disekolah diniyah dan dipesantren yang ditanamkan sejak dini. Akan tetapi jika hanya sebatas itu, apakah mampu menjawab tantangan zaman seperti sekrang? Dengan kondisi yang telah dijelaskan diatas, hal ini paling memprihatinkan sebagai contoh adalah dusun Batu Jaran Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 RW/RT 001/001 hingga pada tahun 2013 berkisar ± 10 orang yang mengenyam pendidikan diperguruan tinggi, yang sarjana masih 3 orang, paling banyak lulusan sekolah dasar dan rata-rata mereka menganggur. Kondisi tersebut setidaknya menjadi gambaran wajah pendidikan masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001.
Dua sektor tersebut saling ketergantungan, logikanya kemajuan ekonomi tanpa ditopang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, maka tidak akan berjalan secara maksimal. Sehingga akhirnya berjalan apa adanya, tidak ada perubahan yang signifikan. Maka dari itu, dua persoalan tersebut, yang dinilai sangat vital bagi masyarakat Madura, khususnya masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001, Kabupaten Sumenep, dipengaruhi oleh paradigma klasik yang sampai saat ini masih menjadi patologi sosial.
Patologi yang menimpa masyarakat tersebut adalah, dimana sampai saat ini – era modernisasi – masih menjadi paradigma klasik. Hal ini banyak terjadi pada mayoritas keluarga, terutama keluarga yang mempunyai anak perempuan. Mereka beranggapan, bahwa (1) seorang perempuan sekolah tinggi tidak akan menjadi apa, dan berasumsi perempuan itu hidupnya “dapur, sumur dan kasur”, paradigma seperti ini yang menjatuhkan martabat perempuan; (2) menjadi kehormatan tersendiri bagi sebuah keluarga, apabila anak perempuannya ada yang meminang. Karena jika ada seorang perempun yang belum mempunyai pasangan atau belum ada yang meminang, dianggap aib bagi keluarga tersebut; (3) menjalin ikatan keluarga merupakan kebahagiaan tersendiri. Walaupun kondisi antara kedua pihak, adalah sama-sama dalam kondisi ekonomi bawah. Maka yang terjadi, kebutuhan hidup masih dipikul oleh kedua pihak tersebut. berbeda dengan dijawa, yang lebih menuntut apabila seorang laki-laki ingin menikah harus matang luar dalam, setidaknya mempunyai pengahsilan. Kondisi ini samapai sekrang masih berlanjut; (4) ketika sudah merajut pernikahan, yang juga tidak dipikrikan secara matang, adalah banyakanya produksi anak yang tidak disesuaikan dengan kondisi kemampuan eknominya. Pada akhirnya, berdalih tidak punya kemampuan untuk menyekolahkan anaknya. Kebanyakan dari mereka beranggapan “ banyak anak banyak rejeki ”, namun fakta dilapangan tidak sesuai dengan slogan itu. Sehinngga kondisi klasik seperti mengemis, mengamen dan mernatau dirasakan oleh generasi berikutnya. Dan yang tidak asing dalam proses menjalin tali kekeluargaa, tidak melihat siapa lelaki yang ingin dijadikan pasangan untuk anak perempuannya. Ini kontras sekali dengan kondisi masyarakat jawa, salah satunya kota Jember, seorang lelaki, setidaknya mempunyai ekonomi yang baik. Walau kebanyakan menginginkan harus matang luar dalam – antara taraf pendidikan dan ekonominya harus seimbang –, di Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 sendiri sangat jarang dilakukan oleh keluarga-keluarga didesa tersebut. Kambali, sudah bisa dipastikan, tidak bisa berbuat banyak, karena dipetik sebelum matang.
Kondisi keluarga yang mempunyai anak perempuan tersebut mempunyai dampak yang sangat signifikan. (1) dampak psikologis khususnya kaum perempuan sendiri, salah satu contoh yang seharusnya tidak boleh terjadi, seorang perempuan yang baru lulus sekolah dasar, sudah menimang anak, hal ini menjadi gambaran (a) perempuan tidak bisa berbuat apa dan punya obsesi yang baik (b) kehormatan adalah harga mati bagi keluarga yang mempunyai anak perempuan. Dari kasus tersebut, cukup menjadi gambaran, bahwa dalam keluarga tersebut pendidikannya lemah. Sehingga, hak dan cita-cita khusunya dan mayoritas adalah anak perempuan terpasung oleh paradigma klasik tersebut. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 80-an, yang kebanyakan anak perempuan nikah diusia dini. Secara tidak langsung dan mungkin menjadi rahasia, anak perempuan meneutup diri, ketika melihat seumurannya masih asyik bersekolah, bermain, bergaul, dan berkarya. (2) beban ekonomi. Karena, berkarya dan berkarir umunya lahir dari proses pendidikan itu. Akhirnya yang menjadi alternatif untuk menjaga stablitas hidup, adalah bergantung. Pertama, yang kebetulan sudah berkeluaraga, mayoritas masih menjadi beban keluarga kedua pihak dengan dalih biar kehidupan cucunya tercukupi dengan baik. Kedua, pilihannya antara mengamen dan mengemis, hal tersebut merupaka alternatif terakhir bagi yang kondisi ekonominya tidak memungkinkan untuk merantau. Dan ini dilakukan oleh kebanyakan orang yang fisiknya masih mampu bekerja dengan baik. Kondisi semakin hari semakin memprihatinkan jika tidak ada pemutusan generasi.
Dari deskripsi persoalan diatas, yang menimpa Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001, bisa diambil kesimpulan. Pertama, kondisi pendidikan sangat rendah dan lemah, karena masyarakatnya berasumsi sekolah tinggi tidak membuat seseorang kaya, yang smapai saat ini menjadi paradigma. Kedua, kondisi ikatan atar keluarga tidak tersentuh hukum, dan hal ini dalam satu dekade ini belum ada tindakan tegas, selain dari tabunya masyarakat tentang hukum juga aparat Desa yang mempunyai tanggung jawab penuh untuk menegakkan hukum tersebut. Dalam undang-undang diatur dengan jelas, tentang pernikahan dan pendidikan, dan sebagai bangsa berhak mendapatkan perlindunngan hukum.
Agar kondisi tersebut tidak membudaya dengan paradigma klasiknya, maka untuk melindungi anak, Pertama, ada lembaga hukum yang mampu mengayomi kondisi tersebut, khususnya pada anak yang seharusnya tidak berada dalam pradigma nenek moyangnya. Kedua, peran orang tua terhadap anak, diperlukan penyuluahan yang mampu mengentaskan ketabuhan masyarat desa tersebut, yang dengan ketabuhannya pada akhirnya anak menjadi korban – terpasung oleh paradigma klasik– di era yang seharusnya menjadi era anak lebih mempunyai daya saing disaat zaman menjadi ajang kompetisi. Ketiga, pemutusan generasi yang akhirnya menjadi pengemis. Keempat, menyediakan sanggar bagi pengamen-pemgamen.
Adapun sektor yang jauh tertinggal dari kota-kota lain, dan mudah kita lihat. Pertama, sektor ekonomi, banyaknya pengemis dengan berbagai motif, masyarakat perantau, dan masih banyak lagi pemuda yang mennjadi pengamen. Hal ini menunjukkan, bahwa ekonomi masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 masih lemah. Berbeda dengan kota-kota lain, salah satunya kabupaten Jember, yang dapat dijadikan perbandingan. Dimana dengan kondisi georafis sangat mendukung, sehingga sebagian besar penduduknya adalah agraris. Dan untuk kalangan pemuda, yang rata-rata minimal lulus SMA/SMU/SMK/MA, setidaknya mereka punya orientasi bekerja pada umumnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Bagaiamna dengan Madura sendiri?, Disana terhamapar laut yang luas dan hasil laut yang melimpah hanya saja orang yang mampu menekuni, masih banyak dilakukan oleh masyarakat pantai. Dan Madura menempati posisi ke-7 hasil buminya, karena hamapran tersebut mengandung material minyak mentah. Kedua, sektor pendidikan, memang tidak dapat dipungkiri mayoritas penduduknya mengenyam pendidikan disekolah diniyah dan dipesantren yang ditanamkan sejak dini. Akan tetapi jika hanya sebatas itu, apakah mampu menjawab tantangan zaman seperti sekrang? Dengan kondisi yang telah dijelaskan diatas, hal ini paling memprihatinkan sebagai contoh adalah dusun Batu Jaran Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 RW/RT 001/001 hingga pada tahun 2013 berkisar ± 10 orang yang mengenyam pendidikan diperguruan tinggi, yang sarjana masih 3 orang, paling banyak lulusan sekolah dasar dan rata-rata mereka menganggur. Kondisi tersebut setidaknya menjadi gambaran wajah pendidikan masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001.
Dua sektor tersebut saling ketergantungan, logikanya kemajuan ekonomi tanpa ditopang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, maka tidak akan berjalan secara maksimal. Sehingga akhirnya berjalan apa adanya, tidak ada perubahan yang signifikan. Maka dari itu, dua persoalan tersebut, yang dinilai sangat vital bagi masyarakat Madura, khususnya masyarakat Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001, Kabupaten Sumenep, dipengaruhi oleh paradigma klasik yang sampai saat ini masih menjadi patologi sosial.
Patologi yang menimpa masyarakat tersebut adalah, dimana sampai saat ini – era modernisasi – masih menjadi paradigma klasik. Hal ini banyak terjadi pada mayoritas keluarga, terutama keluarga yang mempunyai anak perempuan. Mereka beranggapan, bahwa (1) seorang perempuan sekolah tinggi tidak akan menjadi apa, dan berasumsi perempuan itu hidupnya “dapur, sumur dan kasur”, paradigma seperti ini yang menjatuhkan martabat perempuan; (2) menjadi kehormatan tersendiri bagi sebuah keluarga, apabila anak perempuannya ada yang meminang. Karena jika ada seorang perempun yang belum mempunyai pasangan atau belum ada yang meminang, dianggap aib bagi keluarga tersebut; (3) menjalin ikatan keluarga merupakan kebahagiaan tersendiri. Walaupun kondisi antara kedua pihak, adalah sama-sama dalam kondisi ekonomi bawah. Maka yang terjadi, kebutuhan hidup masih dipikul oleh kedua pihak tersebut. berbeda dengan dijawa, yang lebih menuntut apabila seorang laki-laki ingin menikah harus matang luar dalam, setidaknya mempunyai pengahsilan. Kondisi ini samapai sekrang masih berlanjut; (4) ketika sudah merajut pernikahan, yang juga tidak dipikrikan secara matang, adalah banyakanya produksi anak yang tidak disesuaikan dengan kondisi kemampuan eknominya. Pada akhirnya, berdalih tidak punya kemampuan untuk menyekolahkan anaknya. Kebanyakan dari mereka beranggapan “ banyak anak banyak rejeki ”, namun fakta dilapangan tidak sesuai dengan slogan itu. Sehinngga kondisi klasik seperti mengemis, mengamen dan mernatau dirasakan oleh generasi berikutnya. Dan yang tidak asing dalam proses menjalin tali kekeluargaa, tidak melihat siapa lelaki yang ingin dijadikan pasangan untuk anak perempuannya. Ini kontras sekali dengan kondisi masyarakat jawa, salah satunya kota Jember, seorang lelaki, setidaknya mempunyai ekonomi yang baik. Walau kebanyakan menginginkan harus matang luar dalam – antara taraf pendidikan dan ekonominya harus seimbang –, di Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001 sendiri sangat jarang dilakukan oleh keluarga-keluarga didesa tersebut. Kambali, sudah bisa dipastikan, tidak bisa berbuat banyak, karena dipetik sebelum matang.
Kondisi keluarga yang mempunyai anak perempuan tersebut mempunyai dampak yang sangat signifikan. (1) dampak psikologis khususnya kaum perempuan sendiri, salah satu contoh yang seharusnya tidak boleh terjadi, seorang perempuan yang baru lulus sekolah dasar, sudah menimang anak, hal ini menjadi gambaran (a) perempuan tidak bisa berbuat apa dan punya obsesi yang baik (b) kehormatan adalah harga mati bagi keluarga yang mempunyai anak perempuan. Dari kasus tersebut, cukup menjadi gambaran, bahwa dalam keluarga tersebut pendidikannya lemah. Sehingga, hak dan cita-cita khusunya dan mayoritas adalah anak perempuan terpasung oleh paradigma klasik tersebut. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun 80-an, yang kebanyakan anak perempuan nikah diusia dini. Secara tidak langsung dan mungkin menjadi rahasia, anak perempuan meneutup diri, ketika melihat seumurannya masih asyik bersekolah, bermain, bergaul, dan berkarya. (2) beban ekonomi. Karena, berkarya dan berkarir umunya lahir dari proses pendidikan itu. Akhirnya yang menjadi alternatif untuk menjaga stablitas hidup, adalah bergantung. Pertama, yang kebetulan sudah berkeluaraga, mayoritas masih menjadi beban keluarga kedua pihak dengan dalih biar kehidupan cucunya tercukupi dengan baik. Kedua, pilihannya antara mengamen dan mengemis, hal tersebut merupaka alternatif terakhir bagi yang kondisi ekonominya tidak memungkinkan untuk merantau. Dan ini dilakukan oleh kebanyakan orang yang fisiknya masih mampu bekerja dengan baik. Kondisi semakin hari semakin memprihatinkan jika tidak ada pemutusan generasi.
Dari deskripsi persoalan diatas, yang menimpa Desa Pragaan Daya Dusun Batu Jaran RW/001 RT/001, bisa diambil kesimpulan. Pertama, kondisi pendidikan sangat rendah dan lemah, karena masyarakatnya berasumsi sekolah tinggi tidak membuat seseorang kaya, yang smapai saat ini menjadi paradigma. Kedua, kondisi ikatan atar keluarga tidak tersentuh hukum, dan hal ini dalam satu dekade ini belum ada tindakan tegas, selain dari tabunya masyarakat tentang hukum juga aparat Desa yang mempunyai tanggung jawab penuh untuk menegakkan hukum tersebut. Dalam undang-undang diatur dengan jelas, tentang pernikahan dan pendidikan, dan sebagai bangsa berhak mendapatkan perlindunngan hukum.
Agar kondisi tersebut tidak membudaya dengan paradigma klasiknya, maka untuk melindungi anak, Pertama, ada lembaga hukum yang mampu mengayomi kondisi tersebut, khususnya pada anak yang seharusnya tidak berada dalam pradigma nenek moyangnya. Kedua, peran orang tua terhadap anak, diperlukan penyuluahan yang mampu mengentaskan ketabuhan masyarat desa tersebut, yang dengan ketabuhannya pada akhirnya anak menjadi korban – terpasung oleh paradigma klasik– di era yang seharusnya menjadi era anak lebih mempunyai daya saing disaat zaman menjadi ajang kompetisi. Ketiga, pemutusan generasi yang akhirnya menjadi pengemis. Keempat, menyediakan sanggar bagi pengamen-pemgamen.
Senin, 29 Juli 2013
The Journey of Student Part II
Adanya ilmu sosiologi karena memang sejatinya manusia merupakan makhluk sosial. Jadi juga seharusnya interakasi antara yang satu dengan yang lainnya. Karena tanpa hal demikian maka kelangsungan hidup bisa dipastikan hampa. Seakan terasa teralienasi dengan kehidupannya sendiri. Dengan terjadinya gesekan antar individu atau kelompok itulah kemudian dalam konteks islam sebaik-baiknya manusia adalah ketika bermanfaat bagi yang lainnya.
Menilik pada kehidupan mahasiswa, pemandangan yang sangat tidak asing dimata kita. Bahwa mayoritas mahasiswa lebih suka berkelompok, tidak sedikit hal ini banyak dimanfaatkan oleh mayoritas mahasiswa, salah satunya menjaga stabilitas keuangan dan diskusi-diskusi. Sahasrusnya memang seperti ini mahasiswa. Sehubungan dengan hal ini, tidak semua yang kita jadikan teman itu baik. Bukan tidak boleh bergaul dengan orang yang kurang baik tetapi dikhawatirkan terjerumus. Namun jika mampu membentengi diri maka bisa dijadikan referensi kehidupan. Menyikapi hal seperti itu sepatutnya mencari teman yang menjadi sahabat sebagaimana maqoola al hukama جَالِسْ اَهْلَ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ ( bergaulah dengan orang yang jujur dan tepat janji ). Kata “جَالِسْ “ secara harfiah berarti duduklah, akan tetapi jika dikontekstulakan bermakna bergaulah. jadi, siapa pun itu pada dasarnya tidak suka berbohong dan tidak tepat janji, walau kadang kita sering dibohongi dan diingkar janji. Mengapa hukama menekankan agar bergaul dengan teman yang sedemikian rupa, karena tidak ada lain selain kita direndahkan, seolah-olah tidak punya harga diri.
Dalam kehidupa kita, sudah sering dengar mengenai kata cinta sejati dan sahabat sejati. Namun apakah kita tahu apa itu cinta sejati? Apa itu sahabat sejati?. Mengenai cinta sejati yang menjadi kiyasan adalah sebagaimana cinta Allah pada makhluknya dan seorang ibu pada anaknya. Dalam kehidupan kita saat ini mungkin masih blemu mampu mencapai pada derajat cinta sejati, setidaknya kita menjadi sahabat sejati. Seperti apakah sahabat sejati, apakah dengan mendaptkan sesuatu yang gratis? Atau berkorban tanpa pamrih? Ataukah always on for you ?. Terlepas dari itu semua, kembali hukama menjelaskan مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ ( kecintaan seseorang tampak disaat dalam keadaan sulit ). Jadi, yang dikatakan sahabat sejati versi hukama adalah apabila kita dalam keadaan sulit, artinya selalu ada untuk kita disaat kita dalam keadaan sulit dan tanapa memikirkan untung rugi. Karena kebnyakan seorang sahabat, ketika dalam keadaan suka kita menganggap ini “ ini sahabat sejatiku “, tapi apa bila orang yang memberikan kemudahan kepada kita, terkadang kita cenderung ambil sukanya saja, sementara dukanya, “itu derita lho”.
Dari dua kaidah hukama diatas tidak lain merupakan telaah refleksi dan kontemplasi terhadap diri kita apakah kita sudah melakukan itu. Ibnu Athoillah berkata dalam kitabnya
لَاتَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمَلَكَ سِوَاهَا فَلَوْ أَرَادَكَ لَأَسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ أِخْرَاجٍ
Janganlah kamu meminta kepada Allah untuk mengeluarkanmu dari suatu keadaan agar Allah menggunakanmu pada keadaan yang lain. Jika Allah menghendaki Allah boleh menggunakan tanpa mengeluarkanmu.
Maksudnya adalah, kita tidak boleh memohon untuk dikeluarkan dari keadaan yang kita punya. Karena jika berkehdak tidak Allah menjadikan kita lebih baik tanpa mengubah kita pada keadaan yang lain. Inti dari perkataan Ibnu Athoillah, bawa kita harus ikhlas dalam takdirnya, dan berusaha sabar. Karena dengan sabar Allah pasti memberikan kebaikan apa yang kita tekuni. Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita tidka lepas dari keinginan-keinginan yang kita tidak mampu memiliki sehingga dengan maksa pinjam kadang tanpa izin. Jika, kita ingin dimuliakan oleh teman kita, maka kita harus menghargai temnan kita.
Menilik pada kehidupan mahasiswa, pemandangan yang sangat tidak asing dimata kita. Bahwa mayoritas mahasiswa lebih suka berkelompok, tidak sedikit hal ini banyak dimanfaatkan oleh mayoritas mahasiswa, salah satunya menjaga stabilitas keuangan dan diskusi-diskusi. Sahasrusnya memang seperti ini mahasiswa. Sehubungan dengan hal ini, tidak semua yang kita jadikan teman itu baik. Bukan tidak boleh bergaul dengan orang yang kurang baik tetapi dikhawatirkan terjerumus. Namun jika mampu membentengi diri maka bisa dijadikan referensi kehidupan. Menyikapi hal seperti itu sepatutnya mencari teman yang menjadi sahabat sebagaimana maqoola al hukama جَالِسْ اَهْلَ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ ( bergaulah dengan orang yang jujur dan tepat janji ). Kata “جَالِسْ “ secara harfiah berarti duduklah, akan tetapi jika dikontekstulakan bermakna bergaulah. jadi, siapa pun itu pada dasarnya tidak suka berbohong dan tidak tepat janji, walau kadang kita sering dibohongi dan diingkar janji. Mengapa hukama menekankan agar bergaul dengan teman yang sedemikian rupa, karena tidak ada lain selain kita direndahkan, seolah-olah tidak punya harga diri.
Dalam kehidupa kita, sudah sering dengar mengenai kata cinta sejati dan sahabat sejati. Namun apakah kita tahu apa itu cinta sejati? Apa itu sahabat sejati?. Mengenai cinta sejati yang menjadi kiyasan adalah sebagaimana cinta Allah pada makhluknya dan seorang ibu pada anaknya. Dalam kehidupan kita saat ini mungkin masih blemu mampu mencapai pada derajat cinta sejati, setidaknya kita menjadi sahabat sejati. Seperti apakah sahabat sejati, apakah dengan mendaptkan sesuatu yang gratis? Atau berkorban tanpa pamrih? Ataukah always on for you ?. Terlepas dari itu semua, kembali hukama menjelaskan مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ ( kecintaan seseorang tampak disaat dalam keadaan sulit ). Jadi, yang dikatakan sahabat sejati versi hukama adalah apabila kita dalam keadaan sulit, artinya selalu ada untuk kita disaat kita dalam keadaan sulit dan tanapa memikirkan untung rugi. Karena kebnyakan seorang sahabat, ketika dalam keadaan suka kita menganggap ini “ ini sahabat sejatiku “, tapi apa bila orang yang memberikan kemudahan kepada kita, terkadang kita cenderung ambil sukanya saja, sementara dukanya, “itu derita lho”.
Dari dua kaidah hukama diatas tidak lain merupakan telaah refleksi dan kontemplasi terhadap diri kita apakah kita sudah melakukan itu. Ibnu Athoillah berkata dalam kitabnya
لَاتَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمَلَكَ سِوَاهَا فَلَوْ أَرَادَكَ لَأَسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ أِخْرَاجٍ
Janganlah kamu meminta kepada Allah untuk mengeluarkanmu dari suatu keadaan agar Allah menggunakanmu pada keadaan yang lain. Jika Allah menghendaki Allah boleh menggunakan tanpa mengeluarkanmu.
Maksudnya adalah, kita tidak boleh memohon untuk dikeluarkan dari keadaan yang kita punya. Karena jika berkehdak tidak Allah menjadikan kita lebih baik tanpa mengubah kita pada keadaan yang lain. Inti dari perkataan Ibnu Athoillah, bawa kita harus ikhlas dalam takdirnya, dan berusaha sabar. Karena dengan sabar Allah pasti memberikan kebaikan apa yang kita tekuni. Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita tidka lepas dari keinginan-keinginan yang kita tidak mampu memiliki sehingga dengan maksa pinjam kadang tanpa izin. Jika, kita ingin dimuliakan oleh teman kita, maka kita harus menghargai temnan kita.
The Journey of Student Part I
Pemerintah negara Indonesia masih punya pekerjaan yang belum terselesaikan, yaitu kemiskinan, kemiskinan bangsa Indonesia tidak hanya karena kemiskinan secara ekonomi tetapi juga moralitas bangsa. Namun yang memicu terjadinya kekerasan adalah kemiskinan ekonomi. Ketika kondisi demikian semakin berlarut dampaknya lumayan besar terutama dimasyarakat pedesaan dan kerasnya kehidupan kota, salah satunya adalah pemuda yang cenderung untuk tidak melanjutkan pendidikan. Dalam mencari penghasilan ini caranya yang berbeda, terkadang tidak menyadari posisinya.
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِى الاَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِالخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الاَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِى التَّجْرِيْدِ إِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ
Keinginanmu untuk melakukan at-tajrid (yaikni meninggalkan usaha-usaha mencari rezeki) sedangkan Allah mendirikanmu didalam al-asbab (yakni melakukan usaha-usaha mencari rezeki) adalah syahwat yang tersembunyi. Dan keinginanmu untuk (berkecimpung dalam) al-asbab sedangkan Allah mendirikanmu dalam at-tajrid pula adalah penurunan dari pada himmah (aspirasi) yang tinggi.
Saat ini kondisi itu dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa yang secara ekonomi keluarga tidak mampu, tapi memunyai kemuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi ini pun menjadi bagian dari perjalanan hidup mahasiswa khususnya mahasiswa perantau. Idealnya mahasiswa itu, tidak ada lagi selain belajar dan belajar. Kondisi ini pula yang membuat mahasiswa tersebut berfikir untuk mencari pekerjaan guna manyambung hidup ditanah rantau. Sementara dalam mencapai apa yang telah menjadi cita-cita awal mahasiswa memasuki kampus sudah ditancapkan dalam hati dan siap memikul dipundaknya. Salah satu maqolal hukama, menjadi renungan bagimahasiswa, “مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ“(barang siapa yang berjalan dijalannya maka akan berhasil). Kata “من” mempunyai bernacam makna salah satunya pelajar atau mahasiswa. Jika apa yang diinginkan dalam belajar tercapai dengan sukses maka harus sesuai dengan jalannya-lurus jangan menoleh pada hal yang akan menghambat perjalanan-maka kesuksesan pasti tercapai. Dan untuk mencapai padaوَصَلَtersebut maka untuk membentengi jalan tersebut yakni pertama niat, karena apa pun tanpa didasari niat yang kuat maka sesuatu terebut tidak akan pernah tercapai dengan sempurna. Kedua tabayyun (klarifikasi), menghadapi tantangan zaman yang semakin hari mengalami value shift-pergeseran nilai-maka mahasiswa tidak serta merta menyerap atau mengambil yang terbaik dari apa yang dilihat dan didengar. Misalnya, dunia teknologi saat ini yang telah mampu menjadi candu bagi pemuda, dengan adanya teknologi yang canggih dan maraknya jejaring sosial jika tanpa lepas kontrol atau tabayyun, maka berakibat fatal bagi pemuda tersebut. Satu hal, sesuai kondisi yang dirasakan mahasiswa perantau, jika ingin bekerja paruh waktu harus tabayyun apakah dengan bekerja paruh waktu tidak menjadi hambatan bagi proses belajarnya. Ketiga ikhlas, makna dari ikhlas sangat banyak ada yang mengartikan menerima apa adanya terhadap apa yang dimiliki, akan teteapi menjadi berbeda dalam dunia pendidika, yaitu fokus, menjalani apa yang menjadi kewajibannya jika seorang mahasiswa maka yang menjadi fokusnya adalah belajar dan berproses.
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِى الاَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِالخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الاَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِى التَّجْرِيْدِ إِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ
Keinginanmu untuk melakukan at-tajrid (yaikni meninggalkan usaha-usaha mencari rezeki) sedangkan Allah mendirikanmu didalam al-asbab (yakni melakukan usaha-usaha mencari rezeki) adalah syahwat yang tersembunyi. Dan keinginanmu untuk (berkecimpung dalam) al-asbab sedangkan Allah mendirikanmu dalam at-tajrid pula adalah penurunan dari pada himmah (aspirasi) yang tinggi.
Saat ini kondisi itu dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa yang secara ekonomi keluarga tidak mampu, tapi memunyai kemuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi ini pun menjadi bagian dari perjalanan hidup mahasiswa khususnya mahasiswa perantau. Idealnya mahasiswa itu, tidak ada lagi selain belajar dan belajar. Kondisi ini pula yang membuat mahasiswa tersebut berfikir untuk mencari pekerjaan guna manyambung hidup ditanah rantau. Sementara dalam mencapai apa yang telah menjadi cita-cita awal mahasiswa memasuki kampus sudah ditancapkan dalam hati dan siap memikul dipundaknya. Salah satu maqolal hukama, menjadi renungan bagimahasiswa, “مَنْ سَارَ عَلَى الدَّرْبِ وَصَلَ“(barang siapa yang berjalan dijalannya maka akan berhasil). Kata “من” mempunyai bernacam makna salah satunya pelajar atau mahasiswa. Jika apa yang diinginkan dalam belajar tercapai dengan sukses maka harus sesuai dengan jalannya-lurus jangan menoleh pada hal yang akan menghambat perjalanan-maka kesuksesan pasti tercapai. Dan untuk mencapai padaوَصَلَtersebut maka untuk membentengi jalan tersebut yakni pertama niat, karena apa pun tanpa didasari niat yang kuat maka sesuatu terebut tidak akan pernah tercapai dengan sempurna. Kedua tabayyun (klarifikasi), menghadapi tantangan zaman yang semakin hari mengalami value shift-pergeseran nilai-maka mahasiswa tidak serta merta menyerap atau mengambil yang terbaik dari apa yang dilihat dan didengar. Misalnya, dunia teknologi saat ini yang telah mampu menjadi candu bagi pemuda, dengan adanya teknologi yang canggih dan maraknya jejaring sosial jika tanpa lepas kontrol atau tabayyun, maka berakibat fatal bagi pemuda tersebut. Satu hal, sesuai kondisi yang dirasakan mahasiswa perantau, jika ingin bekerja paruh waktu harus tabayyun apakah dengan bekerja paruh waktu tidak menjadi hambatan bagi proses belajarnya. Ketiga ikhlas, makna dari ikhlas sangat banyak ada yang mengartikan menerima apa adanya terhadap apa yang dimiliki, akan teteapi menjadi berbeda dalam dunia pendidika, yaitu fokus, menjalani apa yang menjadi kewajibannya jika seorang mahasiswa maka yang menjadi fokusnya adalah belajar dan berproses.
ISLAM DAN STUDI AGAMA
Jauh sebelum lahirnya studi agama tidak terlepas dari sejarah manusia. Secara umum manusia mempunyai keyakinan sebelum masuknya agama. Dalam sejarah perkembangannya, banyak berbagai studi yang di lakukan untuk menggali sebuah agama. Pentingya sebuah studi agama, untuk memperoleh agaa secara unifersal, tidak hanya sebatas teologis dan doktrinal keagamaan adalah tuntutan modernesasi itu sendiri. Ninian Smart dalam karya Peter Connolly : Approaches to Study of Relegion Dalam dunia bahasa inggris , studi agama dasarnya muncul sejak tahun 1960 meskpun sebelumnya ada perbandingan agama, sejarah agama, sosiologi agama, dan seterusnya.
Studi keagamaan membutuhkan tiga mode dimensional (Dimensional mode of reperesentation). Dua aspek dimensional yang mempresentasikan agama-agama dan budaya-budaya yang berbeda secara vertikal, dan berbagai pendekatan yang dibutuhkan untukb mempresentasikandan memahamin agama dan budaya secara horisontal. Maka kita akan bertemu dengan Hinduisme, Taoisme, Kristen, Yahudi dan Islam belum lagi agama-agama klasik Afrika, tradisi-tradisi Amerikab asli dan sebagainya. Dimensi ketiga atau dimensi perbandingan tetaplah penting berdasar alasan yang sangat sederhana, karena ketika memperbincanfgkan agama dalam beberapa pengertian pasti melakukan perbandingan sebab kategori agama yang sebenarnya tentu saja lintas budaya (hlm.viii)
Pijakan ini merupaka suatu yang sangat sesuai dengan perkembangan islam. Karena sejak islam yang sebelumnya adalah agama Allah SWT turun disemenanjung Arab sudah menghampiri seluruh daratan dunia. Islam mampu berkembang pesat karena bersifat universal dan mampu berdialog dengan agam dan budaya dimana daerah yang menjadi tempat prtumbuhan islam itu. Contoh: islam indonesia dan belahan dunia atau negara lain sangat kontras perbedaanya. Universalitas islam tidak hanya bersinggungan dengan budaya melainkan dengan agama-agama lain.
Kira-kira dalm tiga puluh tahun terakhir, semua universitas dan perguruan tinggi yang menggunakan bahasa inggrismenggapai suatu tuntutan sederhana namun konsisten tentang mata kuliah agama yang berbeda model tradisional dalam teologi kristen. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu sering kali mahasiswa religius. Mahasiswa demikian akan sering menemukan diri mereka berhadapan dengan rangkaian mata kuliah “studi keagamaan” atau “studi agama teologi” atau “studi agama-agama” tempat mereka dalam menemukan informasi tidak pernah terjadi dalam tangan hampa
Secara spisifik seiring berkembangnya isla,m dan ajarannya dalam serankaian sejarah telah masuk pada wilaayah kejian. Tetapi kearah yang lebih segnifikan-wilayah akademis-di sinilah studi islam masuk yang mencankup secarra keseluruhan mulai sejarah hingga syariat.dalam buku metode fiqih kontemporer karya Muhammad syahrurdengan konsep filsafatnya ada tiga dimensi filsafatnya, “kondisi berada (eksistensi)”, “kondisi proses”, dan “kondisi menjadi”. Maksudnya, agama tauhid (Allah SWT) sudah ada sejak Nabi Adam AS diciptakan kondisi ini yang disebut “kondisi eksistensi” yaitu keberadaan agama itu sendiri. Kemudian berkembang melalui nabi dan rasul selanjutnya terakhir Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Kondisi ini yang disebut dengan “kondisi proses”. Jadi titik tekannya lebih pada aspek perjalanan islam. Muhammad Syahrur berasumsi, bahwa perkembangan islam sampai saat ini masih kaku. Maksudnya universalitas islam tidak hanya sebatas kajian teks (tradisional) tetapi disesuaikan dengan konteks. Tidak berbeda dengan diadakannya studi islam, agar mendapatkan pemahaman islam secara utuh dan menyeluruh. Walaupun antara islam Indonesia dan islam di negara-negara lain didunia mempunyai kultur yang berbeda.
A. ISLAM DAN STUDI AGAMA
Masa sebelum islam, khususnya di Jazirah Arab disebut masa jahiliyah. Istilah jahiliyah untuk dipakai untuk menandai masa ssebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Term tersebut digunakan al-Quran untuk menunjukkan keadaan atau prilaku tertentu.
Sebutan jahiliyah diberikan kepada bangsa Arab yang pola kehidupannya bersifat positif. Mereka pada umumnya berkabilah-kabilah dan no maden. Mereka berada dalam lingkungan yang ummi (tidak mengenal baca-tulis) dan jauh dari peradaban, yang mereka hidup didalam kegelapan dan kebodohan. Akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan, menyembah berhala, membunuh dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harata kekayaan dengan perjudian, dan membangkitkan peperangan diantara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Melihat kondisi tersebut, islam sebagai agama yang tidak datang kedalam “ruangan” dan kondisi yang kosong. Islam hadir kepada suatu masyarakat yang sudah sarat dengan keyakinan, tradisi dan praktik-praktik, nilai-nilai dan moralitas mereka. M. Quraish Shihab memberi catatan bahwa masyarakat jahiliyah yang dimaksud merupakan masyarakat pertama yang bersentuhan dengan islam, serta masyarakat pertama pula yang berubah pola pikir, sikap dan tingkah lakunya dalam kaitannya dengan konteks keislaman. Ira M. Lapidus menjelaskan bahwa mereka dalam kelompok keluaraga () dengan tradisi patriarkal. Hal ini islam ditinjau dari konteks geografisnya.
Dalam konteks sosiologis masuk pada periode klasik yaitu ketika Nabi Muhammad diutus Tuhan menjadi rasul. Namun ada pula yang berpendapat bahwa periode ini ditandai oleh peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke madina (16 Juli 622 M). Karena pada saat ini eksistensi pemerintahan islam diakui
Nabi Muhammad SAW diutus dengan al-Qur’an sebagai penyangga utamanya. Oleh karena itu masyarakat jahiliyah sangat gandrung dengan kesusastraan. Maka, al-Qur’an diturunkan dengan bahasa sastra yang lazim dipakai oleh masyarakatnya. Hal ini didasarkan atas pertimbangan. Pertama, untuk menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakatnya. Kedua, untuk menantang syair-syair jahiliyah. Menurut Komaruddin Hidayat, islam memiliki akar yang paling kuat dan terus berkembang dibanding agama lain. Didalam jantung tradisi itu terdapat al-Qur’an yang memiliki daya gereak keluar (sentrifugal), merasuki dan berdialog dengan budaya yang dijumpainya. Sebaliknya, ummat islam yang tinggal dan tumbuh dalam berbagai asuhan budaya baru berusaha mencari rujukan pada al-Quran dan tradiisi lama (sentripetal). Pentingnya upaya pembahasan dalam pemahaman terhadap islam ini diibaratkan oleh Amien A, dengan kebutuhan menemukan “ventelasi” untuk sebuah ruangan agar tidak terjadi “kepengapan”. Dan karakteristik islam sendiri sebagai agama yang terbuka dengan berbagai macam pendekatan.
Ketika islam noratif memasuki wilayah kesejarahan, antara yang satu dengan yang lain akan berbeda ekspresinya. Sebagai sontoh, pemikiran islam yang berkembang di Timur Tengah dalam babakan sejarah yang panjang cenderung dikuasai oleh pandangan yang menundukkan islam semata-mata sebagai norma.
B. URGENSI DAN SIGNIFIKANSI ISLAM
Agama adalah ibarat manusia. Untuk mengetahui perihal manusia, harus dipergunakan dua cara; Pertama, membaca ide dan pikiran yang bersangkutan yang tertuang dalam berbagai karangan, pernyataan dan pekerjaan. Kedua, mempelajari biografinya. Begitu pula halnya dengan agama; untuk mengenal agama harus dilakukan dengan mempelajari ide-idenya serta membaca biografinya. Menurut Mukti Ali, ide-ide agama terpusat pada kitab sucinya. Sedangkan biografi agama dapat ditemukan memalui sejra didalamnya.
Dalam konteks islam, untuk memahami agama ini bisa dilakukan penelitian atau studi agama dengan dua metode. Pertama, mempelajari taks-teks suci al-Qur’an yang merupakan himpunan dari ide dan output ilmiah dan literer yang dikenal dengan islam. Untuk menkaji teks-teks suci al-Qur’an , agar dapat memahami esensinya. Maka, penelitian mempelajari teks al-Qur’an dapat menggunakan pendekatan filologi. Al-Qur’an merupakan pesan Tuhan, erat kaitannya dengan agama agar tidak terjadi kesalah fahaman dalam menangkap pesan Tuhan. Ada tiga aspek yang bisa dijadikan objek kajian yang bersifat metafisis, terutama tentang Tuhan. Pertama, ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk menjelaskan obyek pemikiran yang bers. ifat metafisi, terutama tenetang Tuhan. Kedua, bahasa kitab suci terutama bahasa al-Qur’an. Dan ketiga, bahasa ritual keagamaan.
Untuk mendapatkan makna atau pesan dalam teks al-Qura’an dengan tiga aspek tersebut dapat pula menggunakan beberapa pendekatan. Akan tetapi yang umum ada tiga pendekatan. Yakni, metode tafsir, contentanalysis, dan hermeneutika.
1. Metode Tafsir
Pendekatan filologi terhadap al-Qur’an adalah pendekatan atau metode tafsir. Metode ini merupakan metode tertua dalam pengkajian agama. Sesuai dengan namanya, tafsir berarti penjelasan, pemahaman dan perincian terhadap kitab suci, sehingga isi pesan kitab suci dapat dipahami sebagaimana dikehendaki Tuhan.
2. Pendekatan Filologi terhadap As-Sunnah (al-Hadits)
As-Sunnah secara etnologi berarti tadisi atau perjalanan. Sedangkan al-Hadits secara etmologis berarti ucapan atau pernyataan dan sesuatu yang baru. Dalam arti teknisbas-sunnah (sunnatur-Rasul) identik dengan al-Hadits. Pengantar Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bahwa ada nama-nama lain selain yang dua tersebut yaitu al-khabar secara etimologis berarti berita. Secara khas al-khabarberarti sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, sahabat dan tabi’in. Al-Atsarsecara etimologiadalah bekas sesuatu. Al-Zarksyi mengartikan al-atsar sesuatu yang disandarkan kepada sahabat saja. Sedangkan. Sedangkan menurut jumhur Muhadditsin istilah as-sunnah, al-hadits, al-khabar dan al-atsar adalah mempunyai pengertian yang sama (hal 40-43)
Memahami hadits sebagai salah satu sumber terpenting ajaran islam setelah al-Qur’an, niscaya memerlukan telaahh kritis, utuh, dan menyeluruh. Kajian termaksud difokuskan kepada amatan hadits yakni ddngan mencermati perbedaan sosial, kultural serta corak yang berkembang pada saat itu.
3. Pendektan Filologi Terhadap Teks, Naskah, dan Kitab-Kitab: Hermeniutika
Herminiutikasecaraetimologisberasaladari kata kerjahermeneuin: menyampaikanberita. Pengertian yang lebihluasdinyatakanoleh Stephen WL bahwahermeneutikastudy of understanding, especially by interpreting action and text.
Hermeneutikamerupakanmetodebahkanalirandalampenelitiankualitatifkhsusunyadalammemahamiteks, naskahdankitab-kitabsebagaifenomenabudaya, sosilabudaya.Fungsimetodehermeneutikaadalah agar tidakterjadidistorsipesanatauinformasiantarateks, naskahdankitab-kitab, penulis-penulisnyasertapembacanya.Karenaituuntukmemperolehpemaknaan yang lebihkomprehensif, terdapattigapusaran yang dijadikan starting point dan point of view yakniaspekkebahasaan, duniasendiri-sendiri yang salingmendukungatausebaliknyamembelokkanpemaknaan yang diberikan.
Kedua, mempelajaridinamika histioris yang menjadi perwujudan dari ide-ide islam, mulai dari diturunkannya misi islamtersebut, terutama masa Nabi Muhammad SAW, hingga masa akhir-akhir ini. Untukmengungkap kebenaran islam secara utuh dan menyeluruh, hal itu tidak dapat dilalui dengan pendekatan historis atau sejarah. Akan tetapi, apabila bicara sejarah tidak cukup hanya mengeathui perjalanannya saja antara agama dan ummat. Sebelum itu, sejarah tidak lepas dari kajian antropologis.
Untuk mempertaja studi dengan pendekatan sejarah dari aspek antropologi, dua karya yang sangat berbeda: The Golden Bough karya Sir James Frazer dan The Element Forms of Relegius Life karya Emil Durkheim. Seluruh agama sebagai bentuk sihir (magic) fertilitas. Dan Kristus juga suatu bentuk Raja-Tuhan yang meninggal untuk menjamin fertilitas ummatnya. Selanjutnya Frazer mengemukakan, suatu ekspresi dari keyakinan rasionalnya. Sejarah manusia melewati tiga fase yang secara berurutan didominasi oleh; magic (sihir), agama dan ilmu (hal. 145 dan 195). Apabila melihat apa yang dimukakan oleh Frazer , dalam konteks islam, tiga fase tersbut sudah terjadi pra-islam. Sejak Allah SWT menciptakan manusia yang pertama yaitu Nabi Adam AS, dan para Nabi setelahnya, salah satunya Nabi Musa AS, sebagaimana tertera dalam firman Allah (QS. Thaaha 17-23. 16). Menurut sejarah, ketika itu oaring-orang musyrik trbelalak dan mengira itu sihir. Sedangkan mengenai ilmu juga dijelaskan dalam al-Qur’an (QS. Al-Anbiya’: 74 dan 79. 17).
Berbeda dengan Durkheim yang lebih menekankan bahwa dasrany “tidak ada agama yang salah. Semua agama adalah benar menurut mode masing-masing. Semua memenuhi kondisi-kondisi tertentu dan eksistensi manusia. Meskipun dengan cara yang berbeda-bedaagma adalah satu hal, satu aspek kemanusiaan yang fundamental dan permanen (hlm.1). Jika asumsi Durkheim demikian, islampun menegaskan – tidak mewajibkan untuk beragama islam - sebagaimana dalam QS. Al-Kaafirun: 6;30)
Pendekatan sejarah diamksudkan agar dapat diketahui bagaimana ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ersebut diketahui secara utuh bagaimana awal mmula masyarakat menerima ajaran tersebut dan selanjutnya bagaimana agama mewarnai pola hidup pengikutnya hingga bagaimana agama ini berinteraksi dengan berbagai ummat manusia yang berlatar belakang berbagai budaya dan etnis. Menurut Ibnu Khaldun, dilihat dari sisi dalamnya, sejarah merupakan suatu penalaran kritis dan usaha yang cermat untuk mencari kebenaran, suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab-sebab adanya asal usul segala sesuatu. Suatu pengeathuan yang mendalam tentang bagaiman dan mengapa peristiwa itu terjadi. Winarno Surakhmad, pendekatan sejarah ”merupakan proses uang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa atau gagasan yang timbul pada masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha memahami realitas-reaitas sejarah, malahan juga dikatakan dapat digunankan untuk memahami masa situasi sekarang serta dapat pula untuk meramalkan yang akan dating. Beberapa hal diuraikan diatas, tidak lain adalah bagaimana memahami islam secara utuh dan menyeluruh. Karena hal itu, dibutuhkan studi islam untuk mengetahi dibalik sejarah tersebut khusunya perkembangan agama islam. Maka disinilah letak urgensitas studi islam
Mengupastentangislamtidakterlepasdarikondisisebelumnya (pra-islam) dimanakeyakinankepada Allah SWT sudahdilakukansejakpertma kali manusiadiciptakanyakniNabi Adam AS. Sejarahsebelumislammerupakanfase-fasepenyempurnaan agama Allah (tauhid) sampaikeada Muhammad diutusmenjadiNabisekaliguRasul. Kemudiandimasatersebutmerupakanmuaranya agama Allah sebagai agama tauhidmenemukanprinsipnyadanberkarakter. Dan padamasaitu pula, agama Allah disebut agama islam. Karenadalamperjalanansejarahnyatelahmengentaskanbangsa Arab dengankondisijahiliyahkejalanmenujukebenaran.Tetapi agama islamdalamperkembangannya, memulaisejarahbaruhinggasaatinibahkansamapainantiharikiamat.
Islam eratkorelasinyadengan agama-agama lain. Tetapiislamtidakhanyamenjadi agama pembedadari agama-agama lain melainkanjugapembedadari ritual ibadah yang dibawaolehparanabidanrasulsebelumnya – dalamkonteksdankarakternya – danNabi Muhammad SAW. Perbedaanituterlihatpadauniversalitasislamterhadap agama-agama yang lain. Maksudnyaislammampumenjawabsegalatantanganzaman. Karenasetiap agama mempuyaikitabsucimasing-masingsebagai legal formalnya.Makaislamdengan al-Quran sebagai legal formalnya.
Selain agama islamsebagai agama terbesardidunia. Makabagaimanaislamtetapberkembangsebagaimanamestinyadanmampumenjawabsetiaptantanganzaman agar fleksiblelitaseksistensinyadenganuniversalitasnya yang merupakankarakterdariislamitusendiritetapterjaga. Dalammembentengieksistensidanuniversalitasitu, dilakukannyastuditerhadapislamitusendiri. Tujuannyaadalah agar islamsanpaidan bias dterimasecarautuhdansempurnaummatnya. Urgensidansignifikansistudi agama islamterletakpadatujuandankarakter yang adapada agama islamitusendiri. Hal itu bias dilakukandenganbeberapacara. Pertama, mempeljariteks-teks al-Quran dan al-Hadits yang merupakan idedanout putilmiahdanliterer yang dikenalislam. Kedua, mempelajarihistoris yang menjadiperwujudandari ide-ide islammulaidaripemulaannyaditurunkannyamisiislamtersebut, trutamamasaNabi Muhammad SAW hinggadewasa ini.
Studi keagamaan membutuhkan tiga mode dimensional (Dimensional mode of reperesentation). Dua aspek dimensional yang mempresentasikan agama-agama dan budaya-budaya yang berbeda secara vertikal, dan berbagai pendekatan yang dibutuhkan untukb mempresentasikandan memahamin agama dan budaya secara horisontal. Maka kita akan bertemu dengan Hinduisme, Taoisme, Kristen, Yahudi dan Islam belum lagi agama-agama klasik Afrika, tradisi-tradisi Amerikab asli dan sebagainya. Dimensi ketiga atau dimensi perbandingan tetaplah penting berdasar alasan yang sangat sederhana, karena ketika memperbincanfgkan agama dalam beberapa pengertian pasti melakukan perbandingan sebab kategori agama yang sebenarnya tentu saja lintas budaya (hlm.viii)
Pijakan ini merupaka suatu yang sangat sesuai dengan perkembangan islam. Karena sejak islam yang sebelumnya adalah agama Allah SWT turun disemenanjung Arab sudah menghampiri seluruh daratan dunia. Islam mampu berkembang pesat karena bersifat universal dan mampu berdialog dengan agam dan budaya dimana daerah yang menjadi tempat prtumbuhan islam itu. Contoh: islam indonesia dan belahan dunia atau negara lain sangat kontras perbedaanya. Universalitas islam tidak hanya bersinggungan dengan budaya melainkan dengan agama-agama lain.
Kira-kira dalm tiga puluh tahun terakhir, semua universitas dan perguruan tinggi yang menggunakan bahasa inggrismenggapai suatu tuntutan sederhana namun konsisten tentang mata kuliah agama yang berbeda model tradisional dalam teologi kristen. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu sering kali mahasiswa religius. Mahasiswa demikian akan sering menemukan diri mereka berhadapan dengan rangkaian mata kuliah “studi keagamaan” atau “studi agama teologi” atau “studi agama-agama” tempat mereka dalam menemukan informasi tidak pernah terjadi dalam tangan hampa
Secara spisifik seiring berkembangnya isla,m dan ajarannya dalam serankaian sejarah telah masuk pada wilaayah kejian. Tetapi kearah yang lebih segnifikan-wilayah akademis-di sinilah studi islam masuk yang mencankup secarra keseluruhan mulai sejarah hingga syariat.dalam buku metode fiqih kontemporer karya Muhammad syahrurdengan konsep filsafatnya ada tiga dimensi filsafatnya, “kondisi berada (eksistensi)”, “kondisi proses”, dan “kondisi menjadi”. Maksudnya, agama tauhid (Allah SWT) sudah ada sejak Nabi Adam AS diciptakan kondisi ini yang disebut “kondisi eksistensi” yaitu keberadaan agama itu sendiri. Kemudian berkembang melalui nabi dan rasul selanjutnya terakhir Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Kondisi ini yang disebut dengan “kondisi proses”. Jadi titik tekannya lebih pada aspek perjalanan islam. Muhammad Syahrur berasumsi, bahwa perkembangan islam sampai saat ini masih kaku. Maksudnya universalitas islam tidak hanya sebatas kajian teks (tradisional) tetapi disesuaikan dengan konteks. Tidak berbeda dengan diadakannya studi islam, agar mendapatkan pemahaman islam secara utuh dan menyeluruh. Walaupun antara islam Indonesia dan islam di negara-negara lain didunia mempunyai kultur yang berbeda.
A. ISLAM DAN STUDI AGAMA
Masa sebelum islam, khususnya di Jazirah Arab disebut masa jahiliyah. Istilah jahiliyah untuk dipakai untuk menandai masa ssebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Term tersebut digunakan al-Quran untuk menunjukkan keadaan atau prilaku tertentu.
Sebutan jahiliyah diberikan kepada bangsa Arab yang pola kehidupannya bersifat positif. Mereka pada umumnya berkabilah-kabilah dan no maden. Mereka berada dalam lingkungan yang ummi (tidak mengenal baca-tulis) dan jauh dari peradaban, yang mereka hidup didalam kegelapan dan kebodohan. Akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan, menyembah berhala, membunuh dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harata kekayaan dengan perjudian, dan membangkitkan peperangan diantara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Melihat kondisi tersebut, islam sebagai agama yang tidak datang kedalam “ruangan” dan kondisi yang kosong. Islam hadir kepada suatu masyarakat yang sudah sarat dengan keyakinan, tradisi dan praktik-praktik, nilai-nilai dan moralitas mereka. M. Quraish Shihab memberi catatan bahwa masyarakat jahiliyah yang dimaksud merupakan masyarakat pertama yang bersentuhan dengan islam, serta masyarakat pertama pula yang berubah pola pikir, sikap dan tingkah lakunya dalam kaitannya dengan konteks keislaman. Ira M. Lapidus menjelaskan bahwa mereka dalam kelompok keluaraga () dengan tradisi patriarkal. Hal ini islam ditinjau dari konteks geografisnya.
Dalam konteks sosiologis masuk pada periode klasik yaitu ketika Nabi Muhammad diutus Tuhan menjadi rasul. Namun ada pula yang berpendapat bahwa periode ini ditandai oleh peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke madina (16 Juli 622 M). Karena pada saat ini eksistensi pemerintahan islam diakui
Nabi Muhammad SAW diutus dengan al-Qur’an sebagai penyangga utamanya. Oleh karena itu masyarakat jahiliyah sangat gandrung dengan kesusastraan. Maka, al-Qur’an diturunkan dengan bahasa sastra yang lazim dipakai oleh masyarakatnya. Hal ini didasarkan atas pertimbangan. Pertama, untuk menyesuaikan diri dengan tradisi masyarakatnya. Kedua, untuk menantang syair-syair jahiliyah. Menurut Komaruddin Hidayat, islam memiliki akar yang paling kuat dan terus berkembang dibanding agama lain. Didalam jantung tradisi itu terdapat al-Qur’an yang memiliki daya gereak keluar (sentrifugal), merasuki dan berdialog dengan budaya yang dijumpainya. Sebaliknya, ummat islam yang tinggal dan tumbuh dalam berbagai asuhan budaya baru berusaha mencari rujukan pada al-Quran dan tradiisi lama (sentripetal). Pentingnya upaya pembahasan dalam pemahaman terhadap islam ini diibaratkan oleh Amien A, dengan kebutuhan menemukan “ventelasi” untuk sebuah ruangan agar tidak terjadi “kepengapan”. Dan karakteristik islam sendiri sebagai agama yang terbuka dengan berbagai macam pendekatan.
Ketika islam noratif memasuki wilayah kesejarahan, antara yang satu dengan yang lain akan berbeda ekspresinya. Sebagai sontoh, pemikiran islam yang berkembang di Timur Tengah dalam babakan sejarah yang panjang cenderung dikuasai oleh pandangan yang menundukkan islam semata-mata sebagai norma.
B. URGENSI DAN SIGNIFIKANSI ISLAM
Agama adalah ibarat manusia. Untuk mengetahui perihal manusia, harus dipergunakan dua cara; Pertama, membaca ide dan pikiran yang bersangkutan yang tertuang dalam berbagai karangan, pernyataan dan pekerjaan. Kedua, mempelajari biografinya. Begitu pula halnya dengan agama; untuk mengenal agama harus dilakukan dengan mempelajari ide-idenya serta membaca biografinya. Menurut Mukti Ali, ide-ide agama terpusat pada kitab sucinya. Sedangkan biografi agama dapat ditemukan memalui sejra didalamnya.
Dalam konteks islam, untuk memahami agama ini bisa dilakukan penelitian atau studi agama dengan dua metode. Pertama, mempelajari taks-teks suci al-Qur’an yang merupakan himpunan dari ide dan output ilmiah dan literer yang dikenal dengan islam. Untuk menkaji teks-teks suci al-Qur’an , agar dapat memahami esensinya. Maka, penelitian mempelajari teks al-Qur’an dapat menggunakan pendekatan filologi. Al-Qur’an merupakan pesan Tuhan, erat kaitannya dengan agama agar tidak terjadi kesalah fahaman dalam menangkap pesan Tuhan. Ada tiga aspek yang bisa dijadikan objek kajian yang bersifat metafisis, terutama tentang Tuhan. Pertama, ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk menjelaskan obyek pemikiran yang bers. ifat metafisi, terutama tenetang Tuhan. Kedua, bahasa kitab suci terutama bahasa al-Qur’an. Dan ketiga, bahasa ritual keagamaan.
Untuk mendapatkan makna atau pesan dalam teks al-Qura’an dengan tiga aspek tersebut dapat pula menggunakan beberapa pendekatan. Akan tetapi yang umum ada tiga pendekatan. Yakni, metode tafsir, contentanalysis, dan hermeneutika.
1. Metode Tafsir
Pendekatan filologi terhadap al-Qur’an adalah pendekatan atau metode tafsir. Metode ini merupakan metode tertua dalam pengkajian agama. Sesuai dengan namanya, tafsir berarti penjelasan, pemahaman dan perincian terhadap kitab suci, sehingga isi pesan kitab suci dapat dipahami sebagaimana dikehendaki Tuhan.
2. Pendekatan Filologi terhadap As-Sunnah (al-Hadits)
As-Sunnah secara etnologi berarti tadisi atau perjalanan. Sedangkan al-Hadits secara etmologis berarti ucapan atau pernyataan dan sesuatu yang baru. Dalam arti teknisbas-sunnah (sunnatur-Rasul) identik dengan al-Hadits. Pengantar Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bahwa ada nama-nama lain selain yang dua tersebut yaitu al-khabar secara etimologis berarti berita. Secara khas al-khabarberarti sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, sahabat dan tabi’in. Al-Atsarsecara etimologiadalah bekas sesuatu. Al-Zarksyi mengartikan al-atsar sesuatu yang disandarkan kepada sahabat saja. Sedangkan. Sedangkan menurut jumhur Muhadditsin istilah as-sunnah, al-hadits, al-khabar dan al-atsar adalah mempunyai pengertian yang sama (hal 40-43)
Memahami hadits sebagai salah satu sumber terpenting ajaran islam setelah al-Qur’an, niscaya memerlukan telaahh kritis, utuh, dan menyeluruh. Kajian termaksud difokuskan kepada amatan hadits yakni ddngan mencermati perbedaan sosial, kultural serta corak yang berkembang pada saat itu.
3. Pendektan Filologi Terhadap Teks, Naskah, dan Kitab-Kitab: Hermeniutika
Herminiutikasecaraetimologisberasaladari kata kerjahermeneuin: menyampaikanberita. Pengertian yang lebihluasdinyatakanoleh Stephen WL bahwahermeneutikastudy of understanding, especially by interpreting action and text.
Hermeneutikamerupakanmetodebahkanalirandalampenelitiankualitatifkhsusunyadalammemahamiteks, naskahdankitab-kitabsebagaifenomenabudaya, sosilabudaya.Fungsimetodehermeneutikaadalah agar tidakterjadidistorsipesanatauinformasiantarateks, naskahdankitab-kitab, penulis-penulisnyasertapembacanya.Karenaituuntukmemperolehpemaknaan yang lebihkomprehensif, terdapattigapusaran yang dijadikan starting point dan point of view yakniaspekkebahasaan, duniasendiri-sendiri yang salingmendukungatausebaliknyamembelokkanpemaknaan yang diberikan.
Kedua, mempelajaridinamika histioris yang menjadi perwujudan dari ide-ide islam, mulai dari diturunkannya misi islamtersebut, terutama masa Nabi Muhammad SAW, hingga masa akhir-akhir ini. Untukmengungkap kebenaran islam secara utuh dan menyeluruh, hal itu tidak dapat dilalui dengan pendekatan historis atau sejarah. Akan tetapi, apabila bicara sejarah tidak cukup hanya mengeathui perjalanannya saja antara agama dan ummat. Sebelum itu, sejarah tidak lepas dari kajian antropologis.
Untuk mempertaja studi dengan pendekatan sejarah dari aspek antropologi, dua karya yang sangat berbeda: The Golden Bough karya Sir James Frazer dan The Element Forms of Relegius Life karya Emil Durkheim. Seluruh agama sebagai bentuk sihir (magic) fertilitas. Dan Kristus juga suatu bentuk Raja-Tuhan yang meninggal untuk menjamin fertilitas ummatnya. Selanjutnya Frazer mengemukakan, suatu ekspresi dari keyakinan rasionalnya. Sejarah manusia melewati tiga fase yang secara berurutan didominasi oleh; magic (sihir), agama dan ilmu (hal. 145 dan 195). Apabila melihat apa yang dimukakan oleh Frazer , dalam konteks islam, tiga fase tersbut sudah terjadi pra-islam. Sejak Allah SWT menciptakan manusia yang pertama yaitu Nabi Adam AS, dan para Nabi setelahnya, salah satunya Nabi Musa AS, sebagaimana tertera dalam firman Allah (QS. Thaaha 17-23. 16). Menurut sejarah, ketika itu oaring-orang musyrik trbelalak dan mengira itu sihir. Sedangkan mengenai ilmu juga dijelaskan dalam al-Qur’an (QS. Al-Anbiya’: 74 dan 79. 17).
Berbeda dengan Durkheim yang lebih menekankan bahwa dasrany “tidak ada agama yang salah. Semua agama adalah benar menurut mode masing-masing. Semua memenuhi kondisi-kondisi tertentu dan eksistensi manusia. Meskipun dengan cara yang berbeda-bedaagma adalah satu hal, satu aspek kemanusiaan yang fundamental dan permanen (hlm.1). Jika asumsi Durkheim demikian, islampun menegaskan – tidak mewajibkan untuk beragama islam - sebagaimana dalam QS. Al-Kaafirun: 6;30)
Pendekatan sejarah diamksudkan agar dapat diketahui bagaimana ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ersebut diketahui secara utuh bagaimana awal mmula masyarakat menerima ajaran tersebut dan selanjutnya bagaimana agama mewarnai pola hidup pengikutnya hingga bagaimana agama ini berinteraksi dengan berbagai ummat manusia yang berlatar belakang berbagai budaya dan etnis. Menurut Ibnu Khaldun, dilihat dari sisi dalamnya, sejarah merupakan suatu penalaran kritis dan usaha yang cermat untuk mencari kebenaran, suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab-sebab adanya asal usul segala sesuatu. Suatu pengeathuan yang mendalam tentang bagaiman dan mengapa peristiwa itu terjadi. Winarno Surakhmad, pendekatan sejarah ”merupakan proses uang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa atau gagasan yang timbul pada masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha memahami realitas-reaitas sejarah, malahan juga dikatakan dapat digunankan untuk memahami masa situasi sekarang serta dapat pula untuk meramalkan yang akan dating. Beberapa hal diuraikan diatas, tidak lain adalah bagaimana memahami islam secara utuh dan menyeluruh. Karena hal itu, dibutuhkan studi islam untuk mengetahi dibalik sejarah tersebut khusunya perkembangan agama islam. Maka disinilah letak urgensitas studi islam
Mengupastentangislamtidakterlepasdarikondisisebelumnya (pra-islam) dimanakeyakinankepada Allah SWT sudahdilakukansejakpertma kali manusiadiciptakanyakniNabi Adam AS. Sejarahsebelumislammerupakanfase-fasepenyempurnaan agama Allah (tauhid) sampaikeada Muhammad diutusmenjadiNabisekaliguRasul. Kemudiandimasatersebutmerupakanmuaranya agama Allah sebagai agama tauhidmenemukanprinsipnyadanberkarakter. Dan padamasaitu pula, agama Allah disebut agama islam. Karenadalamperjalanansejarahnyatelahmengentaskanbangsa Arab dengankondisijahiliyahkejalanmenujukebenaran.Tetapi agama islamdalamperkembangannya, memulaisejarahbaruhinggasaatinibahkansamapainantiharikiamat.
Islam eratkorelasinyadengan agama-agama lain. Tetapiislamtidakhanyamenjadi agama pembedadari agama-agama lain melainkanjugapembedadari ritual ibadah yang dibawaolehparanabidanrasulsebelumnya – dalamkonteksdankarakternya – danNabi Muhammad SAW. Perbedaanituterlihatpadauniversalitasislamterhadap agama-agama yang lain. Maksudnyaislammampumenjawabsegalatantanganzaman. Karenasetiap agama mempuyaikitabsucimasing-masingsebagai legal formalnya.Makaislamdengan al-Quran sebagai legal formalnya.
Selain agama islamsebagai agama terbesardidunia. Makabagaimanaislamtetapberkembangsebagaimanamestinyadanmampumenjawabsetiaptantanganzaman agar fleksiblelitaseksistensinyadenganuniversalitasnya yang merupakankarakterdariislamitusendiritetapterjaga. Dalammembentengieksistensidanuniversalitasitu, dilakukannyastuditerhadapislamitusendiri. Tujuannyaadalah agar islamsanpaidan bias dterimasecarautuhdansempurnaummatnya. Urgensidansignifikansistudi agama islamterletakpadatujuandankarakter yang adapada agama islamitusendiri. Hal itu bias dilakukandenganbeberapacara. Pertama, mempeljariteks-teks al-Quran dan al-Hadits yang merupakan idedanout putilmiahdanliterer yang dikenalislam. Kedua, mempelajarihistoris yang menjadiperwujudandari ide-ide islammulaidaripemulaannyaditurunkannyamisiislamtersebut, trutamamasaNabi Muhammad SAW hinggadewasa ini.
Selasa, 03 Januari 2012
SEKILAS PERJALANAN PENDIDIKAN PRIBUMI
Beberapa hal yang sampai dewasa ini dalam pendidikan indonesia belum terselesaikan seiring dengan diterapkannya berbagai sistem yang kunjung berakhir, sehingga yang dibingungkan adalh pelaku pendidikan –guru dan murid- hal demikian karena faktor yang sangat ketidak inkonsisten dalam menerapkan pendidikan yang termaktub dalam UUD bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa. Dalam perjalanan berbagai negara yang merupakan relevansi dalam memajukan negara adalah bangsanya yang berwawasan luas, hal demikian belum maksimal dalam penerapannya karena dibenturkan dalam beberapa hal pemikiran:
EUROPIA
Beberapa pakar menjelaskan yang menjadi landasan dalam menerapkan pendidikan, namun tidak ada yang tidak mungkiun salah dalam hal berlandasan walaupun landasan tersebut merupakan dari pemikir-pemikir yang diakui oleh diunia terutama dalam berparadigma. Berikut cuplikan secuil pemikir barat yang masih timpang.
a. Rasionalisme
Dalam hal ini yang dalam membenarkan sesuatu adalah dengan rasio. Namun hal ini maish banyak ketimpangan yang masih sangat kontras dalam penerapannya, seperti Descartes dengan idenya cogito ergo sum-berfikir maka aku ada- namun manusia bukanlah tuhan yang mengetahui secara otentik sebuah kebenaran, dalam dunia nyata. Hal serupa tidak hanya disampaikan oleh Descartes, masih banyak filusuf-filusuf lainnya.
b. Empirisme
Kelompok empirisme mematahkan teori yang terbesit dalam hal berfikir yang mana lebih mengedepankan rasio, bantahan tersebut tak lain dari sebuah kesangsian para filusuf empirisme, bahwa rasio tanpa bukti yang empirik, kebenarannya masih dipertnyakan. Karena hal tesebut yang menurut pendapat emperisme berfikir rasio belum tentu sesuai dengan kenyataan, sehingga kelompok empirisme mengklaim bahwa kebenaran sesuatau adalah berdasarkan bukti empirik, akan tetapi belum tentu pula sesuatu yang empirik diterima oleh khalayak karena belum tentu sesuai. Ide tersebut diprakarsai Ariestoteles.
c. Saintisme
Dewasa ini di awal tahun melenium muncul berbagai eksperimen dalam menentukan kemajuan manusia dalam berinovasi, hal tersebit dipicu oleh saint yang tak lain hal tersebut erat kaitannya dengan teknologi, sehingga aktifitas apapun sepenuhnya bergantung pada teknologi. Namun saint tersebut malah membuat manusia semakin tidak berkembang, maksudnya hidup kergantungan merupakan ketidakbebasan dan terbelenggunya nalar manusia, dan hal ini yang menurut Comte merupakan virus modern.
Kebebasan Pendidikan dan Tidak Membelengggu
Antara guru dan muri merupakan subyek jadi, karena hal demkian menurut Ferrere, guru belum tentu sepenuhnya benar dalam menyampaikan sebuah pengetahuan, dan hal lainnya yang menurut Ferrere, dalam dunia pendidikan tidak hanya mengentaskan faktor internal (kebodohan, keterbelakangan, takut) namun faktor eksternal (kemiskinan, pendidikan mahal, sistem), yang memicu Ferrere untuk memutar otak sehingga muncul ide dan beranggapan bahwa hal tersebut merupakan pendidikan yang tidak bebas dan membelenggu.
TIMUR TENGAH
Dalam sejarah peradaban manusia di bumi nusantara, mengenai dunia islam dari timur tengah yang membawa perkembangan yang sangat pesat bagi islam itu sendiri, sehingga sampai pada fase walisongo. Oleh karena perkembangan islalm itu sendiri paradigma yang dibangun waktu adalh islam ala timur tengah, dan yang memungkinkan lagi adalah pendidikannya yang menggunakan kitab – kitab klasik dari timur tengah pula.
PRIBUMI
Setelah melesatnya perkembangan islam dan penganutnya, sebelum penjajah (jepang dan belanda) masuk, hal tersebut dalam genggaman para wali dan yang faniliar di eranya dikenal dengan istilah walisongo. Disinilah terbentuk pendidikan yang mengkombinasikan - ala timur tengah – dengan kondisi masyarakat pribumi, sehingga terbentuklah sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren yang mana dalam aplikasinya tak kenal yang namanya modernisasi, sehingga yang modern pada waktu itu adalah ajaran nyang dibawa Nabi Muhammad SAW. Sampai pada waktu indonesia dijajah, pesanteren merupakan basis yang hampir tidak dapat dimusnahkan. Seiring penajajah mulai melakukan ekspansi kekuasaannya, pada waktu itu pula para penajajah mendirikan lembaga pendidikan, yang hanya diperbolehkan anak-anak dari konglomerat, yang tak mampu hanya bisa dipesantren.
Hal demikianlah selain awalnya pendidikan dinusantara berbasis pesantren dengan hadirnya penajajah (Belanda) maka selaras dengan ekspansi kekuasaannya sehingga dalam berpendidikan, saat itu pula paradigma eropa masuk. Sehingga dalam nusantara yang pada awalnya sangat kokoh dengan pendidikan berbasis pesantren, akhirnya terkikis oleh paradigma barat. Disinilah kericuhan dalam melakukan sistem pendidikan nusantara tudak menemukan sistem yang cocok untuk bangsa indonesia. Sehingga terbentukalah berbagai kurikulum yang sampai saat ini belum sukses mengantarkan bangsa untuk bersaing ditingkat internasional.
Yang menjadi tugas besar bagi pemuda saat ini-sebagai tunas bangsa-mampu mengentaskan hal yang komplek dalam dunia pendidikan. Yang pada saat ni masih sangsi dalam berlandasan, sehingga paradigma yang dibangun menemukan ke-ambiguan-nya, karena Indonesia mulai dulu sampai saat ini masih menjadi pengimpor sitem pendidikan. Indonesia masih rapu h untuk menemui jati diri pendidikannya, bagaiman menjadi pelaja yang humanis dan modern. Jika dengan beberapa kurikulum yang ditentukan belum menemukan kesuksesannya dalam menerapkan pendidikan, maka yang cocok untuk bumi nusantra sistem pendidikan seperti apa? Bagaimana teknis penerapannya?. Hal tersebut diatas merupakan prototype pendidikan indonesia gagal mebangun negeri yang berpendidikan, berwawasan luas, dan membangun negeri yang mampu bersaing dikancah internasional. Pemuda yang icon-nya adalah pelajar khsusnya mahasiswa sebagai agen perubahan mampu meracik imporisasi pendidikan sehingga menjadi jati diri pendidikan yang Indonesia, bukan yang Eropa dan Timur Tengah. Sangat memprihatinkan jika hal tersebut tidak segera ditangani, karena yang menjadi korban sistem tidak hanya para pendidik, yang lebih dikhawatirkan lagi adalah tunas bangsa.
Afandi Enginer
Layouter MITRA UI Jember
01 Januari 2012
Rabu, 09 November 2011
KESUKSESAN SESEORANG KARENA BIKIN HIDUP SEMAKIN HIDUP
Kesuksesan seseorang sekarang sudah menjadi prioritas bagi orang kebanyakan, apa lagi dalam dewasa ini dengan gaya hidup yang sangat melambung dengan naiknya harga barang dan cara hidup yang semakin bergengsi dengan hadirnya sebuah nuklir yang bernama “hidonisme”. Seiring dengan melonjaknya kemiskinan yang melanda khususnya di Indonesia yang sampai saat ini belum terentaskan, dan akademik menjadi tuhan sebagai penentu dalam kesuksesan (dalam materi). Namun ketika banyak orang mengatakan dengan berpendidikan seseorang akan menuai kesukesan (materi), itu sangat salah besar karena orang yang mengatakan demikian masih terdoktrinasi oleh paham lama IQ (Intellectual Question). Namun fakta dilapangan tidak demikian, bahkan pelajar saat ini adalah penganggur yang terdidik, dengan berbagai masalah, muncul sebuah eksperimen setelahnya dengan konsep EQ (Emotional Question) oleh Salovey dan Mayer dalam istilahnya kecerdasan sosial (EQ) menjelaskan bahwa kecerdasan sosial dapat memberi kontribusi bagi keberhasilan seseorang karena memiliki kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan prasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.
Selain kecerdasan emosional, pada abad ke-20 mulai diperbincangankan jenis kecerdasan manusia yang lain, yaitu kecerdasan spiritual. Zohar dan Marshal menjelaskan kecerdasan sosial sebagai suatu kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai. Kesimpulannya kembali dalam sebuah pepatah yang mengatakan “ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang, dan agama tanpa pengetahuan adalah buta”. Dalam perkembangan tentang kecerdasan manusia mengatakan manusia mempunyai multiple intelligence (kecerdasan majmuk) sebagaimana dijelaskan oleh Gardner dan Dr. Jhon Elliot, walau sama – sama mempunyai tujuh kesimpulan mengenai multiple intelligence tapi ada sedikit perbedaan.
Mentari mulai menampakkan tanda ia akan terbenam. Serak dan terbata sekitar jam tiga lewat teman saya telpon ingin bercerita tentang masalah pribadinya. Masalah itu tak lain tentang kisah asmara disaat ia menjadi pelajar menengah atas. Saya geli sebenarnya dengar yang namanya cinta, namun namanya juga seorang teman yang tengah terpuruk, bukan teman kalau tidak punya empati. Hari – hari yang ia jalani penuh canda dan tawa (belaka), alunan musik terisak sampai ketelinga saya, pertanda bahwa ia lagi bersedih. Ia tidak mau mengulas tentang masalah dirinya kepada siapa pun, akan tetapi dengan sengaja saya memaksanya untuk terus terang, dan saya mempersilakan kepadanya menganggap saya siapa, dibalik pemaksaan saya, saya memang bukan tetangga yang menetap dilingkungannya apa lagi punya kepentingan.
Sore itu semakin tampak matahari akan terlelap dalam benamnya sekitar jam empat saya diajak bicara disebuah tempat olahraga, disitulah perbincangan dimulai. Dengan suara terbata-bata mengulas panjang lebar, ternyata selama ia berpacaran, telah rela memberikan yang terbaik guna mendapatkan rasa cinta yang tulus, namun yang ia rasakan saat ini lebamnya sebuah penghianatan. Sampai ia terseok dalam alunan cinta sehingga tidak butuh orang yang kaya harta, dan berfikiran harta itu masih bisa dicari, justru kebahagiaan dalam cinta yang tulus yang sangat sulit ia dapatkan sambil menitikkan air mata. Kondisi tubuhnya yang semakin lemah akibat beban fikiran yang mengharu biru, memperlihatkan bahwa kondisi batinnya sedang terluka yang mendalam. Belum berhenti ia merintih dalam sakit kesedihan sampai ia dalam kondisi titik labil, ia tidak punya semangat hidup, ingin bunuh diri, tidak ingat keluarga. Lukanya cinta membuat ia tertawan dalam kebodohan.
Dunia yang mengagungkan material. Kebanggaan yang berlebihan kepada kebendaan yang di miliki. Ini menjadi badai yang mengempaskan moralitas dari qalbu. Sehingga hal demikianlah yang disebut “hidonisme”. Dewasa ini hidonisme telah menjelma menjadi tuhan dalam keidupan pemuda. Karena fokus utama orang-orang yang hidupnya hidonis adalah bagaimana berusaha semaksimal mungkin memburu kesenangan, kemegahan dan kepuasan yang bersifat materi. Maka, tak heran jika banyak orang yang ingin mendapatkan kesenangan, kemewahan, dengan menghalalkan segala cara, yang penting tujuannya bisa tercapai. Mereka tak lagi bisa memisahkan mana yang hak dan mana yan batil. Mereka sudah tidak mampu memilah mana yang halal dan mana yang haram. Bahkan, mereka suah tidak mampu lagi memlih mana tindakan yang terpuji dan mana tindakan yang tercela. Ini terjadi karena orang-orang tersebut sudah menanggalkan nilai-nili ruhaniyah. Moralitas dalam hatina tak dapat lagi terasah untuk menapaki hidup dengn jernih hati.
Beberapa persoalan hidup diatas merupakan patologi (penyakit sosial) bangsa Indonesia saat ini. Ketika IQ di nobelkan menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang, tapi realitasnya tidak menentukan, walau disusul dengan konsep EQ dan SQ. Namun konsep mutakhir dengan konsep multiple intelligence (kecedasan majmuk) meliputi seni, jiwa dan raga, otak, dan emosional. Orang yang mempunyai kecerdasan sosial dengan memdukan konsep mutakhir seseorang akan menuai kesuksesan dalam tindakan, interaksi, atau materi.
Begitu pula orang yang diputus oleh pacarnya, bukan lantas harus berfikir kebelakang, bahwa unttuk mengakhiri, ketidak semangatan hidup, labil dalam menentukan arah hidunya seakan-akan bunuh diri merupakan akhir dari masalah. Akan tetapi orang yang demikian, kecerdasan sosialnya tumpul. Bukan berfikir positif kedepan, dan introspeksi diri, kenapa diputus? Mungkin kurang romantis, perhatian dan kasih sayang yang utuh diiringi ikhlas. Maka orang yang demikian butuh yang namanya kecerdasan sosial, bangkit belajar dari kesalahan mencarinya dengan niat yang baik dan melakukan yang terbaik. Maka, orang yang mempunyai kecerdasan sosial yang sangat tinggi bikin hidup menjadi lebih hidup.
Pemuda saait ini identik dengan hidup bebas lepas tapi tidak terarah, seperti apakah itu? Pemuda yang haus akan gaya hidup yang sia – sia berlabelkan “hidonisme”. Kesenagan sementara mungkin itu yang dimaksud dalam dunia hidonis, sehingga apa pun caranya yang penting tujuannya tercapai. Narkoba, sekarang marak dikalangan pemuda bahkan menjadi candu dalam hidunya. Masa depan guna memperbaiki problematika bangsa yang semakin terpuruk disebabkan tunas bangsa yang semakin terpuruk termakan oleh monster hidonis. Namun, jika seseorang mempunyai ketajaman dalam bertindak, kecerdasan sosialnya dipakai untuk berfikir maju, mungkin problematika yang melanda bangsa Indonesia semakin berkurang.
Social Intelligence, oleh Hadi Suyono, buku yang mengulas bagaimana seseorang sukses dalam potensi diri dengan kecerdasan sosial yang tinggi, bagaimana mengatasi persoalan lingkungan, yang amuadul menjadi dinamis, orang yang takut gagal dalam meraih hidup, semuanya diulas panjang lebar dalam buku tersebut. Jadi, terutama pelajar mahasiwa, sebaai kaum intelek, yang ketika sudah menjadi sarjana diharapkan dapat membangun perubahan yang sangat signifikan dan eleven bagi asyarakat.
Kamis, 21 Juli 2011
Bebas Lepas
Pagi itu tepat pada hari minngu, kebetulan saya yang semula berniat maen voly namun berhubunga bolanya tidak ada bolanya, maka saya ganti dengan jalan – jalan pagi bersama empat orang lainnya yang juga temen saya. Jalan – jalan itu tak lain adalah selain menyegarkan tubuh juga refresihing sebgai penghilang penat selama satu minggu dipenuhi dengan kuliah, begitulah cara hidup mahasiswa yang terpinang oleh kurikulum dalam pendidikan. Bukankah mahsiswa statusnya sama dengan tuhan, yang punya kebebasan berkehendak terutama berfikir lepas?
Dihari yang samaselepas jalan – jalan seperti biasa temen – temen menyempatkan untuk mampir disebuah warung untuk sekedar membuat tubuh berstamina. Pemilik warung sangat akrab dan hangat sehangat the yang disuguhkan pada temen – temen. Tak sengaja saya lihat meja jagongan terlihat dua temen yang ditemeni segelas kopi susu plus satu bungkus rokok tentunya. Seperti itulah mahasiswa memaknai hidup yang dikatakan bebas. Saya ikut nimbrung walau sekedar basa basi namun niat untuk mengutarakan sesuatau (sharing) ada . “Kapan datang cuy?” saya tanya, “sudah lama” jawabnya yang tangan kanannya tak lepas dari buku.
Kemudian disela – sela itu saya ngobrol tentang kemajuan teknologi sebagai sarana media (press on line) dan berbagai situs media lainnya. Ditengah – tengah obrolannya dia tanya “ bagaimana kau sudah diterma kerja, nama majalahnya apa?”, saya jawab “statusnya kan masih mahasiswa magang, yah belum lah tapi dalam waktu dekat ini saya mengajukan lamaran, nama majalahnya Media RS Paru”. “walau status saya mahasiswa magang tapi kerjanya hampir sama dengan karyawan sebagai staff” sambung saya. “ kemarin saya ketemu dengan wartawan media, dia menawarkan kalau memang mau bekerja menjadi layouter tanpa persyaratan apapun, cukup datang daftar dan punya kemauan” ucapnya. Saya tanya “bagaiman jika temen – temen kita di magangkan disitu?”, dia menggelengkan kepala mungkin dengan maksud tidak ingin tersertruktur karena dia adalah pimpinan umun LPM maka yang ada dibenaknya adalah lepas berfikir bebas, itulah mahasiswa media. Sebentar saya beranjak masuk untuk sekedar senam mulut dimana makanan ringan berjejer diwarung tersebut, kemudian saya duduk kembai dan ngobrol. Tak lama kemudian dia sepontan menjelaskan antara karya sastra dan jurnalis “ sastra itu adalah bagi orang yang terluka, orang itu bahagia atas derita karena terluka, dan sastra pun tidak boleh disatu padukan dengan industry”.
Dalam berbicara kebebasan mahasiswa berkarya, belajar dan berkreatifitas entah curhat, sengaja atau tidak, “kalau dikampus aku sudah ditutup. Aku hanya ingin bebas berfikir belajar, mebaca dan menulis. Ketika suatu saat aku kuliah maka itu bukanlah aku, melainkan pihak lain yaitu tuntutan”.
KURIKULUM PENDIDIKAN
Berbicara pendidikan di Indonesia telah di atur dalam undang – undang bahwa setiap berhak mendapatkan pensisikan yang layak, dan dalam mencerdaskan anak bengsa dengan cara belajar yang tentunya melalui system pendidikan, dan dalam pendidikan itu terbingkai dalam sebuah kurikulum pendidikan.
Realitas dewasa ini khususnya kalangan mahasiswa dan tak sedikit kalangan pendidik (guru) system pendidikan yang berbasis kurikulum adalah produk gagal. Kegagalan tersebut dikarenkan tidak ada pemerataan yang signifikan sehingga, pencapain sebuah system tidak terukur. Disini pula mahasiswa khsusnya kurikulum dinggap apakah pendidikan yang bebas atau bebas berpendidikan?. Disinilah arti bebas dan lepas sesungguhnya, nalar (cara pikir) bukan dibentuk oleh sebuah kurikulum yang artinya berpikir lepas tanpa terikat oleh sebuah system dan berpendidikan yang bebas, karena mahasiswa menilai pendidikan tidak harus dalam gedung dengan panduan dosen. Tidak salah salah bagai pemuda yang berpikir bebas lepas karena “..ketika menjadi pemuda haruslah berpikir radikal, jika usia tua haruslah bijaksana..” Sutrisno Bachir. Saya teringat lagu anak SD pada usia kecil mumpung masih belia
Rajin – rajinlah mencari ilmu
Namun bila semua tergenapa
Bahagia tentu akan menemuinya
Masih terngiang dalam memori saya, bahwa sebagai insan yang bepikir belajar tidak harus formalitas, yang terpinting adalah bahagia dalam belajar dalam kehidupannya.
Kamis, 17 Februari 2011
MAULID BOLEH DAN SAH
Tulisan ini bukan saya yang tulis, ini tulisan kawan saya (Ibnu Ali) yang ditulis di forum tentangga (al-Quran dan As-Sunnah). selamat Membaca. ini penting......
Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Adapun maulid walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah.
Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur'an dan as-Sunah.
Pengukhususan Waktu
Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid'ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan i...ni sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar'i sendiri (Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27).
Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat.
Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar'i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban).
Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: "Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal salihah dan dilakukan terus-menerus".(Fathul Bari 3: hal. 84)
Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah, (yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul 'Urubah dan direstui Nabi.
Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro' Mi'roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.
Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.
Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid'ah dholalah.
Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat
Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid'ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.
Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:
1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.''(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.
2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.
3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: "Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka'bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka'bah menjadi pendek." (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka'bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.
4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: "itu biawak!", maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: "apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: "Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!" (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.
5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)
Dan Nabi bersabda:" Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:" dan tidaklah Tuhanmu lupa".(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: "Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya".(HR.Daruqutnhi)
Dan Allah berfirman:"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.
Maka dapat disimpulkan bahwa "at-Tark" tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!
Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: "Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah" dengan jawaban: "Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada", peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum'ah. Al-Bayanul Qowim, hal.28)
Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Ras...ulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.
Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.
Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.
Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.
Di Indonesia, terutama di pesantren, para Kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarak...at ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.
Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, bid`ah atau bukan?
Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)
Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:58).
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah SAW lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
Jika sebagian umat Islam ada yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah bid’ah yang sesat karena alasan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dikatakan oleh beliau:
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ ك...ُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي
Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan. (HR Abu Daud dan Tarmizi)
Maka selain dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut, juga secara semantik (lafzhi) kata ‘kullu’ dalam hadits tersebut tidak menunjukkan makna keseluruhan bid’ah (kulliyah) tetapi ‘kullu’ di sini bermakna sebagian dari keseluruhan bid’ah (kulli) saja. Jadi, tidak seluruh bid’ah adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah, sebagaimana komentar Imam Syafi’i:
المُحْدَثَاتُ ضَرْباَنِ مَاأُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتاَباً أَوْسُنَّةً أَوْأَثَرًا أَوْإِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ وَمَاأُحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَالِكَ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرَ مَذْمُوْمَةٍ
Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam: Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid’ah yang sesat; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur’an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma’) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10)
Juga realitas di dunia Islam dapat menjadi pertimbangan untuk jawaban kepada mereka yang melarang maulid Nabi SAW. Ternyata fenomena tradisi maulid Nabi SAW itu tidak hanya ada di Indonesia, tapi merata di hampir semua belahan dunia Islam. Kalangan awam diantara mereka barangkali tidak tahu asal-usul kegiatan ini. Tetapi mereka yang sedikit mengerti hukum agama berargumen bahwa perkara ini tidak termasuk bid`ah yang sesat karena tidak terkait dengan ibadah mahdhah atau ritual peribadatan dalam syariat.
Buktinya, bentuk isi acaranya bisa bervariasi tanpa ada aturan yang baku. Semangatnya justru pada momentum untuk menyatukan semangat dan gairah ke-islaman. Mereka yang melarang peringatan maulid Nabi SAW sulit membedakan antara ibadah dengan syi’ar Islam. Ibadah adalah sesuatu yang baku (given/tauqifi) yang datang dari Allah SWT, tetapi syi’ar adalah sesuatu yang ijtihadi, kreasi umat Islam dan situasional serta mubah.
Perlu dipahami, sesuatu yang mubah tidak semuanya dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam as-Suyuthi mengatakan dalam menananggapi hukum perayaan maulid Nabi SAW:
وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صََلََّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ
Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah(sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia. (Al- Hawi Lil-Fatawa, juz I, h. 251-252)
Dalil Maulid Rasulullah saw.
Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)
• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)
• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)
• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)
• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)
Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.
Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa.
Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.
Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu.
Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)
Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw
Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.
Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.
Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).
Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid
Al Hafidh adalah mereka yg telah hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, dan yang disebut Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya.
1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)
2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsul mukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.
3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.
4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.
5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab
6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.
7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”
8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.
9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”
11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”
12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”
13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”
14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.
15. Imam assyakhawiy
dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi
16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah
17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
dg maulidnya addiba’i
18. Imam ibn hajar al haitsami
dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam
19. Imam Ibrahim Baajuri
mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar
20. Al Allamah Ali Al Qari’
dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi
21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji
23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad
24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’
25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
dg maulid al maulid mustofa adnaani
26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”
27. Syihabuddin Al Halwani
dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif
28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar
29. Asyeikh Ali Attanthowiy
dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa
30. As syeikh Muhammad Al maghribi
dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.
Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.
Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid
Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari kerinduan pada Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.
Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)
Namun sehebat apapun pendapat para Imam yg melarang berdiri untuk menghormati orang lain, bisa dipastikan mereka akan berdiri bila Rasulullah saw datang pada mereka, mustahil seorang muslim beriman bila sedang duduk lalu tiba tiba Rasulullah saw datang padanya dan ia tetap duduk dg santai..
Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir,
semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.
Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.
Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan,
dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,
Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)
Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.
contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .
contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.
Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.
Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.
Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut:
1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW.
2. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
3. Membaca sejarah Rasulullah SAW dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau.
4. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin.
5. Meningkatkan silaturrahim.
6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah kita.
7. Mengadakan pengajian atau majlis ta’lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuritauladani Rasulullah SAW.
MENGORBANKAN MASA DEPAN DEMI ORANG TUA
NAMAKU jelita, kata ayah nama adalah do’a, semoga putrinya menjadi gadis yang cantik jelita. Kini aku menginjak usia SMA, lumayan banyak yang memuji, sepertinya mereka sepakat bahwa aku gadis cantik menarik.
Alih-alih bersombong diri, sungguh aku tak pernah merasa cantik. Aku sadar bahwa semuanya titipan Allah yang bisa diambilnya kapan saja. Bagiku cantik itu adalah budi pekerti dan ilmu, sehingga ketimbang mematut-matut diri aku lebih mencintai belajar dan mengukir prestasi.
Kampungku di desa Manggalan yang kaya dengan perkebunan karet dan gambir. Meskipun kami orang desa, bukan berarti ketnggalan zaman. Desa manggalan dibelah oleh jalan raya perlintasan antar propinsi. Hampir segala jenis kemoderenan singgah disini.
Sayangnya, banyak juga hal-hal buruk yang diserap masyarakat uang hasil kebun karet, gambir dan lainya yang gampang mereka peroleh dihabiskan untuk foya-foya. Banyak tempat pemutaran film-film tidak senonoh, bahkan ditonton oleh anak-anak kecil.
Perjudian juga meraja lela, kondisi kian parah karena beberapa tahun belakangan tiap malam pasar malam digelar. Transaksi jual beli semarak, lengkap dengan berbagai permainan hiburan, suasana ini dimanfaatkan oleh muda mudi berpacaran disudut remang-remang, beberapa diantara malah kedapatan berzina,“ Na’uzu billah min dzalik “. .
Pemuda masyarakat mulai kegerahan, berdasarkan hasil rapat adat, pasar malam hari resmi ditutup. Tapi mereka tetap membandel, riuh rendah hiburan malam terus berlangsung begitu pongahnya.
Dengan uang yang melimpah, anak-anak jadi malas sekolah, lebih baik bekerja diladang karet dan gambir, lekas menghasilkan uang yang berlimpah. Bisa beli sepeda motor, TV, playstation dan lain-lain. Sedangkan belajar hanya mendatangkan sakit kepala.
Aku tak mau terpengaruh dengan lingkungan yang awut-awutan apa lagi ustaz pernah berceramah bahwa azab Allah bisa menimpa suatu negeri yang masyarakatnya lupa diri. Ya . . ., Seperti kampung kami dimana mesjid dan mushalla sepi dan sekolah lengang.
Sebab itulah aku ngotot sekolah SMA dikota. Kelak aku akan kuliah dan jadi orang berguna bagi kampung halaman. Aku tak tahan melihat kemungkaran yang merajalela. Alhamdulillah . . . Aku senang bergaul dengan teman-teman baru dikota ini. Mereka pintar-pintar dan rajin, kondisi yang lumayan bagus untuk ilmu pengetahuan meski godaan untuk hura-hura tak kalah ganasnya, aku teguh dengan niat semula. Selama sekolah aku tak pernah keluar dari tiga besar. Puncaknya, aku diutus mengikuti lomba fisika tangkat propinsi dan sungguh tak terduga . . . Aku menjuarainya.
Alhamdulillah ya Allah ya rabbi . . . ! anak desa bisa bertemu gubernur. Aku diberi piala besar dan tabungan yang lumayan. Teman-teman dan guru-guru berebutan memberi ucapan selamat. Aku bangga, aku bahagia. . . !. Hatiku makin mantap. Insya Allah aku akan kuliah dan jadi orang hebat. Aku ingin seperti mas yudha, anak paman yang kuliah diluar negeri. Ketika ia pulang aku pernah mengutarakan niat itu.
“ Bagus dik, nanti kita cari beasiswanya rajin belajar ya !." dia sudah berjanji, dan aku sangat percaya mas yudha adalah yang terhebat dalam taman hati ku.
Beberapa teman cowok mendekatiku, mereka menawarkan bunga-bunga cinta aku menolaknya dengan santun. Aku bisa kok menikmati masa remaja dengan baik tanpa pacaran. Buat apa bermain-main asmara kalau nanti sakit akhirnya dan mengganggu prestrasi. Pokoknya aku kosentrasi dengan pelajaran. Aku ingin seperti mas yudha yang kembali kuliah lagi keluar negeri.
* * *
Sekuntum bunga harapan yang baru mekar mendadak layu dijiwaku. Saat panggilan pulang kampung bergemar, hatiku sudah menggigil. "Ya Allah . . .! bantulah hamba".
“ Kenapa harus menikah dengannya. Bu “ ?
“Hadi bekerja di jakarta. Dia kaya raya. Lihatlah mobil mengkilap yang dibawanya gonta-ganti tiap mudik. Kamu pasti bahagia bersamanya “ ! Ujar ibu semangat.
“ Tapi kita tak berkekurangan. Bu “ ?
“Uuh . . . Sombong, siapa yang menjamin nasibmu esok, perjodohan ini supaya hidupmu senang “ !
Entah kenapa ibu matrealis sekali, padahal keluarga kami tak berkekurangan. Ada rumah tempat berteduh, sawah, ladang menopang penghidupan, warung yang laris dan kendaraan roda dua. Setahuku tidak pernah kami merasakan pahitnya hidup melarat.
“ Tapi bu . . . Aku ingin kuliah ! “
“ Allah . . . “ !
“ Tapi bu . . . “ ?
“ Diam “ !!!
Ibu wataknya keras. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa membantah, aku lebih berdiam diri dan benar-benar membisu ketika pangeran pujaan hati ibu itu datang.
“ Duh . . . Cantik sekali ! “ Pujiannya membuat bulu kudukku merinding.
Aku tak mau melihat caranya memandangku. Matanya jelalatan seperti menguliti setiap inci tubuhku.
Ya Allah . . . Itukah calon suami yang dipuja-puji ibu ? kalau dia ingin kecantikan, mengapa harus mengorbankan belajarku ? bukankah di Jakarta dia bisa mandapatkan gadis-gadis cantik seperti yang ditayangkan di televisi.
Apa yang dia inginkan dariku ? Toh, sama dengan perempuan lainnya, hanya kumpulan daging-daging dan tulang-tulang. Mengapa kecantikan membuatnya gelap mata ? Bagaimana nanti bila aku kecelakaan dan jadi jelek ? apa dia masih cinta !!! banyak sekali pertanyaan yang menikam hatiku.
Mobil mengkilap hardi kian sering mangkal didepan dan ibu semakin silau. Ibu yang paling ngotot, sedangkan ayah sibuk dengan burung perkututnya. Kepala rumah tangga yang seharusnya berwibawa, sudah lama tak disegani, ibu yang paling mendominasi dirumah.
Situasi makin runyam, aku pun sudah kehabisan air mata, satu-satunya harapan adalah paman dikota. Ya . . .! ayahnya mas yudha. Dengan susah payah aku lari kerumah paman. Mereka menyambut dengan baik dan turut prihatin dengan nasibku . . !!
“ Maaf jelita, paman tak bisa banyak membantu, secara adat tak ada hak kami melarang pernikahan itu, malahan kami bisa dituntut jika dituduh melarikanmu kesini “ !
Jawaban halus itu cukup untuk memusnahkan benih-benih asa. Aku diantar pulang kembali. Sejak itu pula dunia terasa tanpa pelita. Hilanglah impian menerima ijazah SMA. Aku dibawa ke Jakarta dengan mobil mengkilapnya.” Selamat tinggal harapan !” Jerit batinku pilu.
* * *
Mengapa harus cinta ?
Satu pertanyaan itu aja tak sanggup aku menjawab dan jakarta sudah menghujamkan banyak kejutan. Ternyata hardi tak sekaya lagaknya dikampung, rumah masih kontrakan sederhana, gajinya juga biasa-biasa aja, mobil mengkilap yang bergonta ganti tiap mudik itu milik bosnya.
Aku bukan istrinya, tapi boneka manis yang dipamerkan pada semua orang. Hardi puas merengguk kebahagiaan, sedangkan aku meraba-raba makna. Mengapa harus cinta ?
Tidak mudah bagiku membangkitkan semangat hidup. Apalagi harus belajar mencintai, sesal tiada guna meski bayang-bayang bangku kuliah terus menari dipelupuk rindu. Aku berusaha menerima segalanya sebagai takdir atau bakti pada orang tua. Apakah aku kalah ?
Karnanya aku selalu memberi kabar gembira setiap kali telpon berdering dari kampung. Biartlah ibu bangga dengan menceritakan kehebatan menantunya kepada para tetangganya. Mungkin dengan itu ibu bahagia. Akh . . . ! Andai ibu tahu ? Arah nasib emang sulit ditebak. Akhirnya tak ada lagi yang bisa ditutupi. Terutama setelah PT Maxco bangkrut gara-gara prabiknya meledak. Seluruh karyawan terlantar tak jelas nasibnya. Hardi, suami yang hampir sebaya ayahku itu tampak makin tua. Wajahnya kuyu, layu dan malu.
Tak seperti hari-hari sebelumnya, malam itu aku tak sendiri lagi menangis, ada hardi yang menemani. Pada titik nadir itu pula. Setangkup penyesalan dan sepotong maaf disodorkannya, mataku balik bertanya, mengapa harus cinta ?
Dalam ketidak berdayaan, kami pulang kampung dengan memboyong benih di rahimku. Tak ada mobil mengkilap, rumah mewah, perhiasan mahal dari orang yang kalah dengan nasib kami memulainya lagi dari nol, kembali mengolah ladang.
Lenyaplah senyum bangga ibu. Acara ngerumpi tetangga yang sangat digemarinya tak lagi dihadiri, ibu murung dan menutup diri.
Seiring itu, mas yudha pulang dari rantau mengibarkan panji-panji kemilangan. Ia menetapi janji tentang harapan indahnya kuliah, saat berjumpa, kacamata minus itu tak sanggup menutupi keperihan yang mengambang disudut-sudut matanya.
Hatiku pun luluh bersama berhelai-helai hinai.
Mengapa harus cinta ?
Bantu aku menjawabnya !!!
Langganan:
Postingan (Atom)
