Kamis, 17 Februari 2011

MENGORBANKAN MASA DEPAN DEMI ORANG TUA

NAMAKU jelita, kata ayah nama adalah do’a, semoga putrinya menjadi gadis yang cantik jelita. Kini aku menginjak usia SMA, lumayan banyak yang memuji, sepertinya mereka sepakat bahwa aku gadis cantik menarik. Alih-alih bersombong diri, sungguh aku tak pernah merasa cantik. Aku sadar bahwa semuanya titipan Allah yang bisa diambilnya kapan saja. Bagiku cantik itu adalah budi pekerti dan ilmu, sehingga ketimbang mematut-matut diri aku lebih mencintai belajar dan mengukir prestasi. Kampungku di desa Manggalan yang kaya dengan perkebunan karet dan gambir. Meskipun kami orang desa, bukan berarti ketnggalan zaman. Desa manggalan dibelah oleh jalan raya perlintasan antar propinsi. Hampir segala jenis kemoderenan singgah disini. Sayangnya, banyak juga hal-hal buruk yang diserap masyarakat uang hasil kebun karet, gambir dan lainya yang gampang mereka peroleh dihabiskan untuk foya-foya. Banyak tempat pemutaran film-film tidak senonoh, bahkan ditonton oleh anak-anak kecil. Perjudian juga meraja lela, kondisi kian parah karena beberapa tahun belakangan tiap malam pasar malam digelar. Transaksi jual beli semarak, lengkap dengan berbagai permainan hiburan, suasana ini dimanfaatkan oleh muda mudi berpacaran disudut remang-remang, beberapa diantara malah kedapatan berzina,“ Na’uzu billah min dzalik “. . Pemuda masyarakat mulai kegerahan, berdasarkan hasil rapat adat, pasar malam hari resmi ditutup. Tapi mereka tetap membandel, riuh rendah hiburan malam terus berlangsung begitu pongahnya. Dengan uang yang melimpah, anak-anak jadi malas sekolah, lebih baik bekerja diladang karet dan gambir, lekas menghasilkan uang yang berlimpah. Bisa beli sepeda motor, TV, playstation dan lain-lain. Sedangkan belajar hanya mendatangkan sakit kepala. Aku tak mau terpengaruh dengan lingkungan yang awut-awutan apa lagi ustaz pernah berceramah bahwa azab Allah bisa menimpa suatu negeri yang masyarakatnya lupa diri. Ya . . ., Seperti kampung kami dimana mesjid dan mushalla sepi dan sekolah lengang. Sebab itulah aku ngotot sekolah SMA dikota. Kelak aku akan kuliah dan jadi orang berguna bagi kampung halaman. Aku tak tahan melihat kemungkaran yang merajalela. Alhamdulillah . . . Aku senang bergaul dengan teman-teman baru dikota ini. Mereka pintar-pintar dan rajin, kondisi yang lumayan bagus untuk ilmu pengetahuan meski godaan untuk hura-hura tak kalah ganasnya, aku teguh dengan niat semula. Selama sekolah aku tak pernah keluar dari tiga besar. Puncaknya, aku diutus mengikuti lomba fisika tangkat propinsi dan sungguh tak terduga . . . Aku menjuarainya. Alhamdulillah ya Allah ya rabbi . . . ! anak desa bisa bertemu gubernur. Aku diberi piala besar dan tabungan yang lumayan. Teman-teman dan guru-guru berebutan memberi ucapan selamat. Aku bangga, aku bahagia. . . !. Hatiku makin mantap. Insya Allah aku akan kuliah dan jadi orang hebat. Aku ingin seperti mas yudha, anak paman yang kuliah diluar negeri. Ketika ia pulang aku pernah mengutarakan niat itu. “ Bagus dik, nanti kita cari beasiswanya rajin belajar ya !." dia sudah berjanji, dan aku sangat percaya mas yudha adalah yang terhebat dalam taman hati ku. Beberapa teman cowok mendekatiku, mereka menawarkan bunga-bunga cinta aku menolaknya dengan santun. Aku bisa kok menikmati masa remaja dengan baik tanpa pacaran. Buat apa bermain-main asmara kalau nanti sakit akhirnya dan mengganggu prestrasi. Pokoknya aku kosentrasi dengan pelajaran. Aku ingin seperti mas yudha yang kembali kuliah lagi keluar negeri. * * * Sekuntum bunga harapan yang baru mekar mendadak layu dijiwaku. Saat panggilan pulang kampung bergemar, hatiku sudah menggigil. "Ya Allah . . .! bantulah hamba". “ Kenapa harus menikah dengannya. Bu “ ? “Hadi bekerja di jakarta. Dia kaya raya. Lihatlah mobil mengkilap yang dibawanya gonta-ganti tiap mudik. Kamu pasti bahagia bersamanya “ ! Ujar ibu semangat. “ Tapi kita tak berkekurangan. Bu “ ? “Uuh . . . Sombong, siapa yang menjamin nasibmu esok, perjodohan ini supaya hidupmu senang “ ! Entah kenapa ibu matrealis sekali, padahal keluarga kami tak berkekurangan. Ada rumah tempat berteduh, sawah, ladang menopang penghidupan, warung yang laris dan kendaraan roda dua. Setahuku tidak pernah kami merasakan pahitnya hidup melarat. “ Tapi bu . . . Aku ingin kuliah ! “ “ Allah . . . “ ! “ Tapi bu . . . “ ? “ Diam “ !!! Ibu wataknya keras. Kalau sudah begini, tak ada yang bisa membantah, aku lebih berdiam diri dan benar-benar membisu ketika pangeran pujaan hati ibu itu datang. “ Duh . . . Cantik sekali ! “ Pujiannya membuat bulu kudukku merinding. Aku tak mau melihat caranya memandangku. Matanya jelalatan seperti menguliti setiap inci tubuhku. Ya Allah . . . Itukah calon suami yang dipuja-puji ibu ? kalau dia ingin kecantikan, mengapa harus mengorbankan belajarku ? bukankah di Jakarta dia bisa mandapatkan gadis-gadis cantik seperti yang ditayangkan di televisi. Apa yang dia inginkan dariku ? Toh, sama dengan perempuan lainnya, hanya kumpulan daging-daging dan tulang-tulang. Mengapa kecantikan membuatnya gelap mata ? Bagaimana nanti bila aku kecelakaan dan jadi jelek ? apa dia masih cinta !!! banyak sekali pertanyaan yang menikam hatiku. Mobil mengkilap hardi kian sering mangkal didepan dan ibu semakin silau. Ibu yang paling ngotot, sedangkan ayah sibuk dengan burung perkututnya. Kepala rumah tangga yang seharusnya berwibawa, sudah lama tak disegani, ibu yang paling mendominasi dirumah. Situasi makin runyam, aku pun sudah kehabisan air mata, satu-satunya harapan adalah paman dikota. Ya . . .! ayahnya mas yudha. Dengan susah payah aku lari kerumah paman. Mereka menyambut dengan baik dan turut prihatin dengan nasibku . . !! “ Maaf jelita, paman tak bisa banyak membantu, secara adat tak ada hak kami melarang pernikahan itu, malahan kami bisa dituntut jika dituduh melarikanmu kesini “ ! Jawaban halus itu cukup untuk memusnahkan benih-benih asa. Aku diantar pulang kembali. Sejak itu pula dunia terasa tanpa pelita. Hilanglah impian menerima ijazah SMA. Aku dibawa ke Jakarta dengan mobil mengkilapnya.” Selamat tinggal harapan !” Jerit batinku pilu. * * * Mengapa harus cinta ? Satu pertanyaan itu aja tak sanggup aku menjawab dan jakarta sudah menghujamkan banyak kejutan. Ternyata hardi tak sekaya lagaknya dikampung, rumah masih kontrakan sederhana, gajinya juga biasa-biasa aja, mobil mengkilap yang bergonta ganti tiap mudik itu milik bosnya. Aku bukan istrinya, tapi boneka manis yang dipamerkan pada semua orang. Hardi puas merengguk kebahagiaan, sedangkan aku meraba-raba makna. Mengapa harus cinta ? Tidak mudah bagiku membangkitkan semangat hidup. Apalagi harus belajar mencintai, sesal tiada guna meski bayang-bayang bangku kuliah terus menari dipelupuk rindu. Aku berusaha menerima segalanya sebagai takdir atau bakti pada orang tua. Apakah aku kalah ? Karnanya aku selalu memberi kabar gembira setiap kali telpon berdering dari kampung. Biartlah ibu bangga dengan menceritakan kehebatan menantunya kepada para tetangganya. Mungkin dengan itu ibu bahagia. Akh . . . ! Andai ibu tahu ? Arah nasib emang sulit ditebak. Akhirnya tak ada lagi yang bisa ditutupi. Terutama setelah PT Maxco bangkrut gara-gara prabiknya meledak. Seluruh karyawan terlantar tak jelas nasibnya. Hardi, suami yang hampir sebaya ayahku itu tampak makin tua. Wajahnya kuyu, layu dan malu. Tak seperti hari-hari sebelumnya, malam itu aku tak sendiri lagi menangis, ada hardi yang menemani. Pada titik nadir itu pula. Setangkup penyesalan dan sepotong maaf disodorkannya, mataku balik bertanya, mengapa harus cinta ? Dalam ketidak berdayaan, kami pulang kampung dengan memboyong benih di rahimku. Tak ada mobil mengkilap, rumah mewah, perhiasan mahal dari orang yang kalah dengan nasib kami memulainya lagi dari nol, kembali mengolah ladang. Lenyaplah senyum bangga ibu. Acara ngerumpi tetangga yang sangat digemarinya tak lagi dihadiri, ibu murung dan menutup diri. Seiring itu, mas yudha pulang dari rantau mengibarkan panji-panji kemilangan. Ia menetapi janji tentang harapan indahnya kuliah, saat berjumpa, kacamata minus itu tak sanggup menutupi keperihan yang mengambang disudut-sudut matanya. Hatiku pun luluh bersama berhelai-helai hinai. Mengapa harus cinta ? Bantu aku menjawabnya !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar