Sabtu, 29 Januari 2011
Sang Pecinta Sejati
*
Ahmad bin Sa'id al-Abid bercerita bahwa dulu di Kuffah ada seorang pemuda ganteng dan gagah yang sangat gemar ibadah, dia sering sekali ke mesjid, bahkan hampir seluruh waktunya dihabiskan di Mesjid. Suatu hari ada seorang perempuan cantik yang melihatnya dan kagum dengannya, perempuan itu pun mulai jatuh cinta.
Untuk mengungkapkan cintanya, pere...mpuan cantik itu berdiri di samping jalan menunggu sang pangeran lewat menuju ke mesjid, saat pemuda impiannya lewat, si cantik berkata; "Wahai pemuda....! tolong dengarkan beberapa kalimat dari ku, kemudian engkau boleh pergi". Pemuda ahli ibadat itu tidak peduli, dia langsung melanjutkan perjalanannya ke mesjid dan meninggalkan sang perempuan. tapi perjuangan tidak sampai disitu, sang perempuan menunggu pangerannya keluar dari mesjid untuk mengungkapkan isi hatinya yang masih di pendam.
Akhirnya kesempatan kedua datang, sang pemuda nampak dari kejauhan berjalan pulang ke rumahnya. Sang perempuan kembali menghentikan langkah pemuda itu dengan berkata; "Wahai Pemuda...! Dengarkan beberapa kalimat dariku....!. sang pemuda -- sambil menundukkan kepala -- berkata; "Suasana seperti ini bisa mengundang kecurigaan dan sangkaan buruk orang lain, aku benci berada dalam keadaan seperti ini". Sang perempuan menyahut "Demi Allah, Aku berdiri disini bukan karena tidak mengetahui bahwa engkau tidak menyukai, tapi Allah yang mendekatkanku kepadamu seperti ini, aku menemuimu karena aku tahu bahwa orang sepertimu sedikit jumlahnya, tapi tinggi nilainya. Engkau memang bergaul dengan manusia, tapi engkau masih laksana botol-botol kaca yang masih sangat terjaga isi didalamnya, kini seluruh hatiku hanya untukmu.
Setelah mendengarkan kata-kata yang sangat mendalam dari sang pencinta, lelaki itu pun melanjutkan perjalanannya. Kini sang pemuda mulai memikirkan kata-kata yang baru saja ia dengarkan, sehingga saat ingin melakukan shalat, ia merasa tidak mampu melakukannya dengan khusuk, akhirnya ia mengambil kertas dan menuliskan surat untuk sang wanita, kemudian ia keluar menemui wanita itu yang kebetulan sedang berdiri dipinggir jalan, ia lemparkan surat itu, kemudian ia kembali lagi kerumahnya. Dalam surat itu tertulis;
"Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Ketahuilah wahai saudariku...! sesungguhnya Allah lembut kepada hamba yang bermaksiat kepada-Nya, apabila hamba mengulangi maksiatnya, Allah justru menutupinya, namun apabila hamba berpakaian dengan maksiat, Allah marah dengan dahsyatnya, hingga dirasakan oleh langit dan bumi, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan dan hewan – hewan, maka siapa yang siap menerima kemarahan Allah?. Jika apa yang ku katakan ini salah, maka aku mengingatkanmu suatu hari dimana langit menjadi seperti nanah, gunung-gunung menjadi rata, dan para manusia terkejut menatap kekuasaan sang Jabbar. Aku lemah untuk memperbaiki diriku, maka bagaimana aku mampu memperbaiki dan menjaga orang lain?. Jika yang ku katakan ini benar, itu artinya aku telah menunjukimu seorang dokter petunjuk yang dapat mengobati luka dan kepedihan, dialah Allah Swt., pemilik sekalian Alam. Datanglah kepada Allah, sedangkan pikiranku kini sibuk dengan dirimu, karena kata Allah "Dan berilah peringatan akan hari yang semakin dekat, yaitu ketika hati menyesak sampai di kerongkongan, karena menahan kesedihan, tidak ada seorangpun teman setia bagi orang zalim, dan tidak ada baginya penolong yang diterima pertolongannya (QS. Ghafir 18)". apakah mungkin kita lari dari ayat ini?".
Hari berikutnya, saat sang pemuda berjalan di jalan yang sama, si Jelita kembali menunggu di pinggir jalan, namun sang pemuda ingin berbalik arah saat melihat si Jelita dari kejauhan, tiba-tiba perempuan cantik itu berkata "Wahai pemuda...! jangan pergi..! kita tidak akan bertemu setelah hari ini kecuali di hadapan Allah esok", sambil menderaikan air mata, sang jelita berkata; "aku memohon pada Allah—pemilik hatimu—supaya memudahkan kembali urusanmu yang mungkin kini telah sukar, berikan aku satu pelajaran untuk ku jadikan kenangan dari mu, dan wasiatkan aku satu wasiat yang dapat aku amalkan". Laki – laki shaleh itu berkata "jagalah dirimu dari nafsumu, dan ingatlah kata Allah "Dialah yang menidurkanmu di malam hari, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari" (QS. al-An'am 60)
Perempuan jelita kembali menangis dengan dahsyatnya, dan setelah kejadian itu, hari-harinya hanya dihabiskan untuk beribadah hingga ajalnya datang. Setelah kepergiannya, sang pemuda menangis karena mengingatnya, ada yang bertanya padanya "kenapa engkau menangis, bukankah sebenarnya engkau memang tidak mengharapkannya?" pemuda itu menjawab "Aku menangis karena telah menyia-nyiakan perasaannya sejak pertama kali, dan aku menjadikan penolakanku itu sebagai barang simpanan disisi Allah, kemudian aku malu meminta barang simpananku kembali". Subhanallah..........!
(Dari Ihya 'Ulumiddin, Karya Imam al-Ghazali, juz. III, Hal 103, Cet. Mahkota Surabaya)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar